Jakarta, J24 - Menghadapi musim kemarau yang segera tiba, masyarakat diimbau untuk bersama-sama mengantisipasi potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya ini penting dilakukan karena dampak karhutla sangat merugikan ekosistem dan membahayakan kesehatan manusia.

Pesan tersebut disampaikan oleh Bupati Muarojambi saat menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Karhutla di Aula Lt. 2 Plaza Kuningan, Menara Selatan Kementerian Lingkungan Hidup (LH/BPLH), Jakarta, Selasa (7/4/2026). Rapat koordinasi ini dipimpin langsung oleh Menteri LH, Dr Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut, MP.

Dalam sambutannya, Menteri Hanif Faisol mengingatkan jajaran Pemerintah Daerah untuk segera mengambil langkah-langkah strategis. Langkah tersebut mencakup penetapan status siaga darurat bencana karhutla, intensifikasi pencegahan, serta pemastian kesiapan sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana, dan pembiayaan. Selain itu, ia menginstruksikan pengaktifan kembali satgas terpadu di tingkat Provinsi maupun Jabupaten/Kota.

Menteri Hanif menjelaskan bahwa potensi karhutla diprediksi mulai meningkat di wilayah Riau pada bulan Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan. Puncaknya diperkirakan berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.

"Penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan harus dilakukan secara tegas dan konsisten. Kami juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar," tegasnya.

Ia berharap seluruh pihak dapat bersinergi dalam langkah yang sama untuk mengatasi karhutla di Indonesia sepanjang tahun 2026. Fokus pencegahan dan mitigasi diarahkan pada enam Provinsi rawan, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Wilayah-wilayah tersebut menjadi prioritas karena memiliki ekosistem gambut yang luas.

Langkah antisipasi ini diambil berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi musim kemarau yang lebih panjang serta faktor El Nino lemah-moderat yang berpeluang terjadi pada paruh kedua tahun ini dengan probabilitas 50-80 persen. (Diskominfo Muarojambi, J24/FS).