Jambi, J24-Sekitar 350 orang lebih berkumpul malam itu. Bukan untuk hiburan, tapi untuk menyaksikan luka yang sengaja dibungkam. “PESTA BABI bukan sekadar dokumenter, ia adalah tamparan bagi negara yang terlalu sering menutup mata pada tanah Papua.
Ketika kampus mulai diam, layar menjadi alat perlawanan. Dan malam itu, 350 suara membuktikan, kesadaran tidak bisa dibunuh. Ratusan mahasiswa Universitas Jambi (UNJA) menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter “Pesta Babi” di kawasan Kampus Mendalo, Muarojambi, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ruang apresiasi karya film, tetapi juga forum refleksi kritis terhadap isu pembangunan, lingkungan, dan hak masyarakat adat di Papua.
Film “Pesta Babi” merupakan karya sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale, yang dikenal konsisten mengangkat isu-isu sosial, lingkungan, dan keadilan melalui pendekatan dokumenter investigatif.
Mengungkap Narasi Pembangunan
Dalam film tersebut, penonton diajak menelusuri dinamika yang terjadi di wilayah selatan Papua, ketika proyek strategis nasional mulai masuk dengan membawa janji kemajuan di sektor pangan dan energi. Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan biodiesel berbasis sawit serta bioetanol dari tebu, yang digadang-gadang sebagai solusi ketahanan energi nasional.
Namun, dokumenter ini menampilkan sisi lain dari narasi tersebut. Kehadiran kapal-kapal besar, alat berat, serta pembukaan lahan dalam skala luas justru memicu kekhawatiran masyarakat adat. Hutan yang selama ini menjadi sumber kehidupan, baik secara ekonomi, sosial, maupun spiritual, terancam hilang.
Alih-alih menjadi simbol kemajuan, pembangunan yang masif ini digambarkan sebagai ancaman terhadap keberlanjutan hidup masyarakat lokal. Ketergantungan mereka terhadap alam menjadikan kerusakan hutan bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga krisis identitas dan keberlangsungan budaya.
Bentuk Perlawanan Masyarakat Adat
Film ini juga merekam berbagai bentuk resistensi yang dilakukan masyarakat adat. Mulai dari pemasangan simbol-simbol keagamaan seperti salib raksasa, palang adat sebagai tanda larangan, hingga pembentukan gerakan sosial yang dikenal sebagai Gerakan Salib Merah.
Aksi-aksi tersebut mencerminkan upaya masyarakat mempertahankan hak atas tanah dan ruang hidup mereka di tengah tekanan pembangunan. Perlawanan ini tidak selalu bersifat konfrontatif, tetapi juga simbolik, menunjukkan bahwa perjuangan mereka berakar pada nilai budaya, spiritualitas, dan solidaritas komunitas.
“Pesta Babi” sebagai Simbol
Judul film ini merujuk pada tradisi “Pesta Babi”, sebuah ritual penting dalam kehidupan masyarakat Papua. Tradisi ini bukan sekadar perayaan, melainkan simbol kehormatan, persaudaraan, serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur.
Melalui simbol tersebut, film menegaskan bahwa tanah dan hutan bukan sekadar sumber daya ekonomi, tetapi bagian tak terpisahkan dari identitas kolektif masyarakat adat.
Kegiatan nobar di UNJA menjadi ruang diskusi yang mempertemukan mahasiswa dengan realitas di luar wilayah mereka. Sejumlah peserta mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai dampak pembangunan yang selama ini kerap dilihat hanya dari sisi pertumbuhan ekonomi.
Diskusi pasca-penayangan mengarah pada pertanyaan-pertanyaan kritis: sejauh mana pembangunan memperhatikan keberlanjutan lingkungan, bagaimana posisi masyarakat adat dalam kebijakan nasional, serta siapa yang sebenarnya diuntungkan dari proyek-proyek berskala besar tersebut.
Film “Pesta Babi” pada akhirnya tidak hanya menyajikan dokumentasi peristiwa, tetapi juga mengajak penonton untuk menimbang ulang konsep pembangunan itu sendiri. Ketika kemajuan diukur dari ekspansi industri dan produksi energi, muncul pertanyaan mendasar tentang keadilan bagi kelompok yang terdampak langsung.
Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari masyarakat kritis yang mampu membaca, memahami, dan merespons isu-isu nasional secara lebih komprehensif.(J24-AsenkLeeSaragih)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
0Komentar