Muarojambi, J24 - Kejadian keracunan massal yang menimpa ratusan warga Kecamatan Sekernan diduga kuat akibat kelalaian serius Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sengeti. DPRD Muarojambi menilai banyak prosedur operasional standar (SOP) yang diabaikan dalam pelaksanaan program Makanan Bergizi (MBG).

Dan ternyata kol yang disajikan dalam soto untuk siswa sekolah tersebut kol yang masih mentah. Hal ini dikatakan Anggota Dewan Muarojambi H Usman Khalik ketika memanggil SPPG Sengeti Rabu (4/2/2026). 

Anggota DPRD Muarojambi H Usman Khalik, bahkan menyebut insiden ini murni disebabkan oleh kelalaian SPPG Sengeti. Pernyataan itu disampaikan setelah DPRD menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan seluruh pihak terkait. "Dari pengakuan semua pihak, mulai dari pengolahan bahan mentah, proses memasak, sampai pendistribusian, semuanya melanggar SOP,” kata H Usman Khalik.

Politisi PDIP ini  membeberkan sejumlah temuan krusial, di antaranya sayuran yang diterima pada sore hari baru diolah hingga tengah malam. Ayam yang digunakan merupakan ayam beku, bukan ayam segar, serta dicuci menggunakan air sumur bor. 

Dituturkan Dapil II Kabupaten Muarojambi ini, tahu diperlakukan dengan cara serupa. Lebih parah lagi, kol disajikan dalam kondisi mentah dan hanya disiram sedikit air panas. “Itu jelas tidak memenuhi standar kesehatan,” ujarnya.

DPRD juga menyoroti penggunaan wadah makanan atau ompreng yang dinilai tidak steril, serta jeda waktu pengolahan dan konsumsi yang terlalu lama. Makanan yang selesai diolah sekitar pukul 00.00 WIB baru dikonsumsi anak-anak sekitar pukul 10.00 WIB, bahkan sebagian dibawa pulang ke rumah. "Artinya makanan itu sudah sekitar 10 jam. Menurut kami, ini sudah tidak layak konsumsi,” tegas H Usman Khalik.

Atas kejadian tersebut, DPRD Kabupaten Muarojambi merekomendasikan Pemerintah Daerah untuk menjatuhkan sanksi tegas jika terbukti ada kelalaian. Selain itu, pengawasan terhadap seluruh SPPG di wilayah Kabupaten Muarojambi diminta diperketat agar kejadian serupa tidak terulang, pungkasnya. (J24/Red).