Jembatan BH 3: Design Jembatan Batanghari III di Sungai Duren Muarojambi. (Foto Asenk Lee Saragih).

Jambi, J24 - Pembangunan Jalan Tol Jambi–Rengat menjadi salah satu proyek strategis yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera bagian tengah. Namun, di balik ambisi besar tersebut, ada satu titik krusial yang tidak boleh lagi diperlambat: pembangunan Jembatan Batanghari III di Muarojambi.

Rencana pembangunan jembatan ini bukanlah gagasan baru. Wacananya telah bergulir lebih dari satu dekade lalu. Selama hampir 15 tahun, masyarakat Jambi menunggu kepastian realisasi infrastruktur yang diyakini akan menjadi solusi atas kepadatan lalu lintas dan penghubung vital antarwilayah. 

Kini, ketika proyek Tol Jambi–Rengat memasuki tahap pembahasan pendanaan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), momentum ini seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar pengulangan rencana.

Jembatan Batanghari III dirancang membentang sepanjang 1,2 kilometer melintasi Sungai Batanghari. Nilai investasinya diperkirakan mencapai Rp2 triliun. Angka tersebut memang besar, namun sebanding dengan manfaat jangka panjang yang akan dirasakan masyarakat.



Direktur Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Kementerian PU, Dedy Gunawan kepada wartawan baru-baru ini menyebutkan, bahwa meskipun medan proyek tol tidak terlalu sulit, bagian jembatan menjadi pekerjaan paling menantang. 

Tantangan teknis ini justru menunjukkan bahwa proyek tersebut membutuhkan perhatian dan komitmen serius dari pemerintah pusat.

Lebih dari Sekadar Infrastruktur

Jembatan Batanghari III bukan hanya proyek konstruksi. Ia adalah simbol konektivitas dan pemerataan pembangunan. Saat ini, mobilitas masyarakat dan distribusi logistik masih bertumpu pada infrastruktur yang terbatas. Kemacetan, antrean kendaraan berat, serta keterlambatan distribusi barang menjadi persoalan rutin.


Jika jembatan ini terealisasi, dampaknya akan signifikan, memperlancar arus barang dan jasa antarwilayah, mengurangi beban jembatan eksisting, meningkatkan daya saing ekonomi Jambi, menarik investasi baru ke kawasan industri dan perkebunan.

Dengan target operasional penuh Tol Jambi–Rengat pada tahun 2029, pemerintah pusat perlu memastikan bahwa pembangunan Jembatan Batanghari III tidak kembali tertunda oleh persoalan administratif maupun pembiayaan.

Saatnya Kepastian, Bukan Sekadar Wacana

Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk sebuah perencanaan infrastruktur strategis. Masyarakat Jambi membutuhkan kepastian, bukan sekadar janji atau kajian berulang. Proyek ini telah masuk dalam pembahasan pendanaan, artinya secara konsep dan urgensi sudah diakui.

Kini yang dibutuhkan adalah keputusan tegas dan langkah nyata dari pemerintah pusat. Komitmen anggaran, percepatan proses teknis, serta pengawalan ketat terhadap tahapan pembangunan harus menjadi prioritas.

Jembatan Batanghari III bukan hanya tentang beton dan baja sepanjang 1,2 kilometer. Ia adalah tentang masa depan konektivitas Jambi. Setelah satu dekade menunggu, sudah saatnya pembangunan ini benar-benar dimulai dan diwujudkan demi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat. (J24-AsenkLeeSaragih)