Jambi, J24 - Wali Kota Jambi, Dr dr H Maulana, MKM secara resmi melantik jajaran Direksi baru Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PERUMDAM) Tirta Mayang pada Senin (16/3/2026). Dalam momen tersebut  Maulana memaparkan data statistik Distribusi Jumlah Pelanggan dan Cakupan Pelayanan Tahun 2025 sebagai peta jalan bagi manajemen baru.

Secara total, Kota Jambi kini memiliki 107.044 sambungan rumah (pelamggan) dengan rata-rata cakupan pelayanan mencapai 67,20 persen. Namun, mantan Direktur RSUD H Abdul Manap Kota Jambi menyoroti adanya ketimpangan distribusi layanan yang cukup mencolok antar wilayah. Dalam pemaparannya, Kecamatan Kota Baru menjadi wilayah dengan performa tertinggi yang memiliki 20.959 sambungan (93,90%), disusul Pasar Jambi dengan 3.477 sambungan (91,36%), dan Jelutung sebanyak 12.446 sambungan (84,72%).

Sementara itu, wilayah seperti Danau Sipin mencatatkan 8.340 sambungan (77,72%), Telanaipura 10.157 sambungan (77,58%), dan Alam Barajo dengan 20.926 sambungan (69,84%).

Lebih lanjut, mantan Wakil Wali Kota Jambi ini merinci wilayah lain seperti Pelayangan yang memiliki 2.241 sambungan (65,15%), Jambi Timur 11.007 sambungan (64,92%), dan Danau Teluk 2.091 sambungan (63,19%). Menjadi catatan khusus bagi direksi baru adalah wilayah Jambi Selatan yang baru mencapai 7.577 sambungan (52,96%) dan Paal Merah yang masih berada di angka 7.826 sambungan (27,52%).

Wali Kota menekankan bahwa seiring dengan pertumbuhan perumahan yang semakin pesat di Kota Jambi, PDAM tidak boleh tertinggal dalam memberikan layanan. Pertumbuhan perumahan di kota kita semakin banyak, maka pelayanan juga harus ditingkatkan secara paralel. Jangan sampai masyarakat di pemukiman baru kesulitan mendapatkan akses air bersih," tegas alumni Universitas Brawijaya Malang Jawa Timur.

Menutup arahannya, ia memberikan mandat keras terkait kemandirian finansial perusahaan. Jajaran direksi diminta untuk tidak hanya berpangku tangan mengandalkan dana dari APBD maupun dana internal milik Tirta Mayang sendiri.

Direksi harus kreatif dan mampu mengeksplorasi peluang di luar. Cari mitra strategis atau sumber pendanaan eksternal agar percepatan infrastruktur bisa dilakukan tanpa terus-menerus membebani anggaran daerah," pungkas alumni Universitas Indonesia (UI) Fakultas Kesehatan Masyarakat program S2. (J24/Red).