Noviardi Ferzi.

Jakarta, J24 -Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada periode 2026–2027 versi Asian Development Bank (ADB) menempatkan Indonesia sedikit di atas rata-rata negara berkembang Asia-Pasifik yang berada di level 5,1 persen. 

Di tengah tekanan global akibat konflik Timur Tengah, lonjakan harga energi dan pangan, serta volatilitas pasar keuangan, capaian ini menunjukkan ketahanan ekonomi domestik yang relatif solid.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai daya tahan tersebut tidak lepas dari kekuatan konsumsi rumah tangga yang ditopang populasi besar lebih dari 270 juta jiwa. Selain itu, kekayaan sumber daya alam seperti nikel, sawit, dan batu bara menjadi penyangga eksternal yang penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Kebijakan fiskal dan moneter yang hati-hati pasca krisis 1998, serta ekspansi sektor manufaktur yang tercermin dari PMI di atas 50 sejak 2025, turut memperkuat fondasi pertumbuhan.

Namun demikian, di balik capaian tersebut, Noviardi mengingatkan adanya tantangan struktural yang belum terselesaikan. Menurutnya, Indonesia masih terlalu bergantung pada konsumsi domestik dan komoditas primer, yang dalam jangka panjang berpotensi membatasi akselerasi pertumbuhan ekonomi.

“Ini kekuatan sekaligus kelemahan. Kita stabil, tapi belum cukup agresif untuk melompat lebih tinggi,” ujarnya.

Secara global, perlambatan ekonomi juga terjadi di sejumlah negara besar. China diproyeksikan tumbuh di kisaran 4,5–4,6 persen akibat lemahnya sektor properti dan ekspor, sementara India melambat ke sekitar 6,9 persen. Kawasan Pasifik bahkan mencatat pertumbuhan paling rendah di kisaran 3,2–3,4 persen.

Di tingkat ASEAN, Indonesia masih lebih baik dibanding Thailand yang hanya tumbuh 1,8–2,5 persen akibat lemahnya sektor pariwisata dan tingginya utang rumah tangga. Namun, Indonesia masih tertinggal dari Vietnam yang mampu mencatat pertumbuhan di atas 6 persen.

Menurut Noviardi, keunggulan Vietnam terletak pada keberhasilan menarik investasi asing secara agresif, memperluas jaringan perdagangan melalui berbagai perjanjian bebas (FTA), serta fokus pada ekspor manufaktur bernilai tambah tinggi seperti elektronik dan tekstil.

“Vietnam menunjukkan bagaimana konsistensi kebijakan, kemudahan investasi, dan integrasi dalam rantai pasok global bisa mendorong pertumbuhan lebih cepat,” jelasnya.

Ia menambahkan, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar, termasuk pembangunan infrastruktur masif, kebijakan energi seperti biodiesel B35, serta posisi geografis strategis di antara China dan India. Namun, tanpa percepatan transformasi industri dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, keunggulan tersebut berisiko tidak optimal.

“Indonesia tidak kekurangan potensi, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melakukan reformasi struktural secara konsisten. Tanpa itu, kita akan terus stabil, tetapi sulit menjadi yang terdepan,” pungkasnya.(J24-Red)