Jambi, J24 – Kinerja ekonomi Kabupaten Kerinci sepanjang 2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif stabil, namun masih dibayangi kerentanan struktural yang cukup serius. Pengamat ekonomi daerah, Noviardi Ferzi, menilai bahwa capaian makro yang terlihat positif belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi daerah.
Berdasarkan data yang tersedia, realisasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kerinci hingga triwulan III 2025 tumbuh sejalan dengan tren Provinsi Jambi di kisaran 4,5 hingga 5 persen (yoy). Dengan akumulasi nilai triwulanan yang terus meningkat, PDRB tahunan diperkirakan mencapai Rp15,4 hingga Rp15,7 triliun, naik dari Rp14,72 triliun pada tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan ini patut diapresiasi, tetapi tidak boleh membuat kita lengah. Struktur ekonomi Kerinci masih sangat bergantung pada sektor pertanian yang kontribusinya lebih dari 45 persen,” ujar Noviardi, Sabtu pagi (18/4/2026).
Menurutnya, dominasi sektor pertanian justru menjadi sumber kerentanan utama. Fluktuasi harga komoditas global serta dampak cuaca ekstrem membuat ekonomi Kerinci sangat sensitif terhadap guncangan eksternal. Bahkan, jika terjadi koreksi pada perhitungan harga konstan, laju pertumbuhan riil berpotensi turun di bawah 4,5 persen.
Di sisi pembangunan manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kerinci meningkat menjadi 75,10 dan masuk kategori tinggi. Namun demikian, Noviardi menilai peningkatan ini masih menyisakan persoalan mendasar, khususnya pada sektor pendidikan.
“IPM naik, tetapi kualitasnya belum merata. Akses pendidikan di wilayah pedalaman masih tertinggal, sehingga berdampak pada kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti rendahnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang berada di kisaran 2,5 persen. Menurutnya, angka tersebut berpotensi menutupi persoalan underemployment, terutama di sektor pertanian informal yang mendominasi struktur tenaga kerja.
“Secara statistik terlihat rendah, tetapi banyak tenaga kerja yang sebenarnya tidak produktif secara optimal,” tambahnya.
Sementara itu, tingkat kemiskinan yang tercatat sekitar 7,48 persen dinilai belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil masyarakat. Noviardi menekankan bahwa pendekatan kemiskinan tidak bisa hanya berbasis angka, melainkan harus melihat aspek multidimensi seperti akses air bersih, gizi, dan layanan dasar lainnya, terlebih di tengah tekanan inflasi pangan yang masih tinggi.
Dari sisi ketimpangan, indeks Gini Kerinci berada di angka 0,29, lebih rendah dibandingkan rata-rata provinsi dan nasional. Meski terlihat positif, kondisi ini dinilai sebagai indikasi stagnasi struktural.
“Ketimpangan rendah bukan karena distribusi ekonomi yang maju, tetapi karena mayoritas masyarakat masih berada pada level ekonomi yang sama, yakni sektor pertanian skala kecil tanpa nilai tambah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti rendahnya realisasi belanja daerah yang baru mencapai sekitar 46 persen hingga triwulan III sebagai sinyal belum optimalnya peran pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, Noviardi menegaskan bahwa Kabupaten Kerinci perlu melakukan transformasi ekonomi secara serius melalui diversifikasi sektor, hilirisasi produk pertanian, serta penguatan UMKM dan pariwisata berbasis potensi lokal seperti kawasan Danau Kerinci.
“Tanpa diversifikasi, Kerinci akan terus berada dalam jebakan pertumbuhan moderat yang rentan. RPJMD 2025–2030 harus menjadi momentum perubahan,” tegasnya.
.png)
.png)
0Komentar