Foto Ilustrasi. (J24)

Jambi, J24 - Fenomena pengangguran terselubung di Kabupaten Muarojambi kian menjadi sorotan. Pengamat ekonomi Dr Noviardi Ferzi SE MM menilai kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan struktural antara pertumbuhan angkatan kerja yang tinggi dengan kapasitas penyerapan lapangan kerja yang lambat dan minim kualitas.

Menurutnya, selama ini indikator resmi seperti Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) belum mampu menggambarkan kondisi riil di lapangan. Pada 2025, TPT Muarojambi tercatat sekitar 5,02 persen atau setara 12.015 orang dari total 239.183 angkatan kerja. Namun angka tersebut, kata Noviardi, “hanya permukaan dari persoalan yang lebih dalam.”

“Masalah utamanya bukan sekadar berapa banyak orang tidak bekerja, tetapi berapa banyak yang bekerja tanpa produktivitas optimal. Inilah yang disebut pengangguran terselubung,” ujarnya, di Jambi 28 April 2026 hari ini.

Ia menjelaskan, sektor pertanian yang masih mendominasi struktur ekonomi Muarojambi menjadi kantong utama fenomena ini. Dalam banyak kasus, jumlah tenaga kerja yang terlibat jauh melampaui kebutuhan ideal. Akibatnya, tambahan tenaga kerja tidak lagi meningkatkan output, bahkan kontribusi marginalnya mendekati nol.

“Contoh sederhana, lahan satu hektare idealnya dikelola lima orang, tapi di lapangan bisa diisi 10 hingga 15 orang hanya untuk pekerjaan ringan. Hasil panen tidak bertambah, tapi tenaga kerja membengkak. Ini menciptakan ilusi kesempatan kerja,” jelasnya.

Data menunjukkan jumlah penduduk bekerja memang meningkat sekitar 6,9 persen dari 212.445 orang pada 2024 menjadi 227.168 orang pada 2025. Namun, dalam periode yang sama, angkatan kerja justru bertambah lebih besar, yakni sekitar 14.912 orang. Kondisi ini menyebabkan TPT cenderung stagnan di kisaran 5 persen sejak 2021.

Di sisi lain, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga naik menjadi 73,82 persen, menandakan semakin banyak penduduk masuk pasar kerja, namun tidak semuanya terserap dalam pekerjaan yang layak.

“Ini yang saya sebut sebagai pertumbuhan kerja semu. Secara statistik terlihat membaik, tetapi secara kualitas stagnan, bahkan cenderung menurun,” tegas Noviardi.

Ia menilai akar persoalan terletak pada minimnya diversifikasi ekonomi. Ketergantungan terhadap sektor primer, khususnya pertanian tradisional dan informal, membuat struktur pasar kerja menjadi rapuh. Sementara itu, sektor industri pengolahan dan jasa produktif belum berkembang stabil untuk menyerap tenaga kerja baru.

Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi menekan pendapatan rumah tangga dan memperlambat akselerasi pembangunan daerah, meskipun Muarojambi memiliki posisi strategis sebagai daerah penyangga ibu kota provinsi.

Sebagai solusi, Noviardi mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan transformasi struktural ekonomi. Beberapa langkah yang dinilai mendesak antara lain penguatan hilirisasi pertanian, pengembangan UMKM berbasis nilai tambah, serta percepatan investasi di sektor industri pengolahan dan jasa produktif.

“Fokusnya harus bergeser, bukan hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi menciptakan pekerjaan yang produktif dan berkelanjutan. Tanpa itu, pengangguran terselubung akan terus menjadi bom waktu bagi ekonomi daerah,” pungkasnya.(J24-Rel/AsenkLee)