Jambi, J24- Nama Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari daerah pemilihan Jambi, Edi Purwanto, mulai diperbincangkan sebagai salah satu figur potensial dalam kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jambi 2029. Namun, di tengah wacana tersebut, muncul pertanyaan mendasar: seberapa jauh masyarakat Jambi benar-benar mengenal sosok ini?
Figur dengan Rekam Jejak Politik Panjang
Secara politik, Edi Purwanto bukan nama baru. Ia saat ini menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029, setelah sebelumnya menduduki posisi Ketua DPRD Provinsi Jambi selama periode 2019–2024.
Kariernya terbilang konsisten, dimulai dari aktivis kampus hingga menduduki posisi strategis di partai, termasuk sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Jambi.
Dalam beberapa momentum, ia juga terlibat dalam isu-isu strategis daerah, seperti penyelesaian konflik lahan dan kampanye antikorupsi bersama lembaga negara.
Dengan latar belakang tersebut, secara “CV politik”, ia memenuhi kriteria sebagai kandidat kepala daerah. Meski kerap disebut sebagai kandidat potensial, pengenalan publik terhadap Edi Purwanto belum tentu merata.
Fenomena ini umum terjadi dalam politik lokal. Elit politik mengenal figur. Masyarakat akar rumput belum tentu familiar. Dalam konteks ini, wacana pencalonan Edi Purwanto justru membuka ruang untuk menguji, apakah popularitasnya sudah organik, atau masih sebatas konsumsi elit politik?
Indikator Awal: Popularitas vs Elektabilitas
Dalam ilmu politik, ada dua hal berbeda yang sering “dipaksa menikah”. Popularitas, dikenal masyarakat. Elektabilitas, dipilih masyarakat.
Edi Purwanto mungkin sudah dikenal di kalangan politik dan kuat di struktur partai. Namun belum tentu dikenal luas oleh pemilih muda dan memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat desa. Ini yang akan menjadi ujian sebenarnya menuju 2029.
Jika wacana ini terus berkembang, publik Jambi justru perlu mengambil peran lebih aktif, bukan sekadar jadi penonton. Beberapa pertanyaan yang relevan, apa kontribusi nyata tokoh ini bagi masyarakat? Seberapa sering masyarakat mendengar atau melihat kiprahnya? Apakah ia hanya kuat di struktur partai atau juga di lapangan?
Karena pada akhirnya, Pilkada bukan soal siapa yang paling sering disebut, tapi siapa yang paling dipercaya.
Masih Panjang Menuju 2029
Pilkada Jambi 2029 masih beberapa tahun lagi. Dalam politik, waktu selama itu bisa mengangkat nama baru, menjatuhkan kandidat lama atau bahkan mengubah peta kekuatan total.
Artinya, posisi “calon kuat” hari ini belum tentu bertahan hingga hari pemilihan. Wacana pencalonan Edi Purwanto sebagai Gubernur Jambi 2029 menjadi momentum penting, bukan hanya bagi partai politik, tetapi juga bagi masyarakat untuk mulai mengenali dan menilai calon pemimpin mereka.
Alih-alih menerima narasi “calon kuat” begitu saja, publik justru perlu menjadikannya sebagai alat uji, apakah figur ini benar-benar dikenal, atau hanya terdengar familiar? Karena kalau pemilih saja masih harus bertanya “siapa dia?”, ya agak ironis kalau nanti diminta memilih dia.
Seperti diketahui Edi Purwanto juga pernah sebagai calon wakil Gubernur Jambi berpasangan dengan calon gubernur Hasan Basri Agus (HBA), namun kalah. Saat itu pemilihan kepala Daerah di Indonesia dilakukan secara serentak pada 9 Desember 2015.
Salah satu wilayah yang melakukan pemilihan Gubernur adalah Provinsi Jambi. Ada dua pasangan yang bertarung dalam pilkada tersebut. Kedua pasangan tersebut adalah pasangan incumbent Hasan Basri Agus - Edi Purwanto yang diusung oleh partai Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Gerindra, dan PKS.
Lalu pasangan Zumi Zola Zulkifli - Fachori Umar yang diusung Partai Amanat Nasional, Partai Nasdem, PKB, Hanura dan PBB. Kedua pasangan tersebut terdaftar di KPU Jambi sejak Senin 27 Agustus 2015 dan bertarung merebutkan kursi nomor satu di Jambi.
Diantara nama-nama diatas, nama Edi Purwanto menjadi yang paling asing, pertanyaan pun muncul, siapakah Edi Purwanto, lantas mengapa HBA meminangnya untuk menjadi pasangan dalam pilkada tahun 2015 lalu ? (J24-AsenkLeeSaragih)

0Komentar