Jakarta, J24 - Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai prediksi di berbagai platform media sosial yang menyebut nilai tukar Rupiah akan melemah hingga Rp22.000 per Dolar AS pada Juli mendatang lebih banyak dibangun oleh sentimen spekulatif dibandingkan analisis fundamental ekonomi yang kuat. Menurutnya, skenario tersebut terlalu ekstrem dan tidak sejalan dengan kondisi makroekonomi Indonesia saat ini.

“Prediksi Rupiah sampai Rp22.000 per Dolar AS lebih bersifat skenario kepanikan pasar daripada refleksi kondisi fundamental ekonomi nasional. Jika melihat indikator utama ekonomi makro, kondisi Indonesia masih relatif terkendali,” ujar Noviardi Ferzi, di Jakarta Rabu pagi (13/5/2026).

Dalam hal ini Noviardi menjelaskan, berdasarkan teori Purchasing Power Parity (PPP), pelemahan kurs sedalam itu biasanya hanya terjadi apabila suatu negara mengalami hiperinflasi atau krisis ekonomi berat yang menghancurkan daya beli domestik. 

Sementara itu, inflasi Indonesia masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sehingga tidak mencerminkan tekanan ekonomi yang ekstrem.

Selain itu, Noviardi menilai video di Media Soail tersebut juga mengabaikan peran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Berdasarkan teori Interest Rate Parity, Bank Indonesia memiliki instrumen suku bunga acuan yang dapat digunakan untuk menjaga daya tarik aset Rupiah dan menahan arus keluar modal.

“Bank Indonesia tidak akan tinggal diam jika volatilitas meningkat. Otoritas moneter memiliki ruang untuk menyesuaikan suku bunga guna menarik kembali aliran modal masuk dan menjaga stabilitas Rupiah,” katanya.

Menurut Noviardi, kekuatan lain yang sering diabaikan adalah strategi Triple Intervention Bank Indonesia yang dilakukan secara aktif di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). Strategi tersebut selama ini terbukti mampu meredam gejolak berlebihan di pasar valuta asing.

Ia juga menyoroti posisi cadangan devisa Indonesia yang masih memadai serta kebijakan wajib parkir Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang memperkuat likuiditas Dolar AS di dalam negeri. Kondisi ini dinilai menjadi bantalan penting untuk menjaga stabilitas kurs di tengah tekanan global.

“Selama neraca perdagangan masih terjaga, cadangan devisa cukup kuat, dan intervensi Bank Indonesia berjalan disiplin, Rupiah akan bergerak menuju titik keseimbangan baru yang jauh lebih rasional dibanding angka spekulatif Rp22.000,” tegasnya.

Noviardi mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menyikapi berbagai prediksi ekonomi yang beredar di media sosial. Ia menilai narasi yang terlalu bombastis tanpa dukungan teori dan data berpotensi menciptakan kepanikan yang justru memperburuk psikologi pasar.

“Pasar keuangan memang sensitif terhadap sentimen, tetapi ekonomi tidak bergerak hanya berdasarkan ketakutan. Ada mekanisme stabilisasi otomatis dan kebijakan negara yang bekerja menjaga keseimbangan,” tutupnya.(J24-AsenkLee)