Jambi, J24- Perekonomian Kota Jambi sepanjang 2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup solid, namun masih menghadapi tantangan serius berupa minimnya diversifikasi sektor industri yang berpotensi menghambat pertumbuhan jangka panjang.

Pertumbuhan ekonomi Kota Jambi tahun 2025 mencapai 5,13 persen atau meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesar 4,88 persen. Kondisi tersebut ditopang kuat oleh sektor perdagangan, jasa, dan meningkatnya investasi daerah yang telah mencapai Rp1,31 triliun.

Hal itu diungkapkan Pengamat ekonomi Jambi, Dr Noviardi Ferzi SE MM, kepada wartawan, Jumat (8/5/2026) menyikapi indikator sosial ekonomi Kota Jambi yang menunjukkan perkembangan positif.

"Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tercatat mencapai 82,32 atau tertinggi di Provinsi Jambi. Sementara angka kemiskinan turun menjadi 7,69 persen dan gini ratio berada pada level 0,339. Secara umum ekonomi Kota Jambi cukup resilien. Aktivitas perdagangan dan jasa masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah, terutama karena posisi Kota Jambi sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan di provinsi,” ujarnya.

Namun demikian, Noviardi menilai capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan struktur ekonomi yang sehat dan berkelanjutan. Tingkat pengangguran terbuka yang masih berada di angka 7,08 persen menunjukkan adanya persoalan mismatch antara kualitas sumber daya manusia dengan kebutuhan pasar kerja.

“IPM tinggi seharusnya diikuti penciptaan lapangan kerja produktif. Faktanya, sektor industri pengolahan dan ekonomi berbasis teknologi masih belum berkembang optimal,” katanya.

Menurutnya, struktur ekonomi Kota Jambi saat ini masih terlalu bergantung pada sektor perdagangan dan jasa yang berkontribusi sekitar 25 hingga 30 persen terhadap PDRB daerah. Ketergantungan tersebut membuat ekonomi Kota Jambi rentan terhadap perlambatan konsumsi rumah tangga maupun tekanan inflasi.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai tantangan klasik daerah perkotaan yang tumbuh cepat namun belum mampu membangun basis industri yang kuat.

“Kota Jambi menikmati spillover pertumbuhan dari ekonomi provinsi, terutama efek hilirisasi komoditas yang mendorong ekspor daerah meningkat. Tapi kalau tidak dibarengi penguatan industri hilir lokal dan UMKM berbasis teknologi, pertumbuhan akan stagnan,” jelasnya.

Noviardi mengaitkan fenomena tersebut dengan teori pertumbuhan Solow-Swan yang menekankan pentingnya inovasi dan produktivitas teknologi dalam menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Menurutnya, saat ini kontribusi spillover teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Jambi masih sangat rendah, diperkirakan hanya sekitar 0,5 hingga 1 persen.

Sementara dari perspektif Human Capital Theory, kualitas sumber daya manusia Kota Jambi sebenarnya sudah cukup baik. Namun kemampuan SDM tersebut belum terserap optimal karena terbatasnya sektor ekonomi modern yang mampu menciptakan pekerjaan bernilai tambah tinggi.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah mulai mengarahkan strategi pembangunan pada penguatan industri logistik, ekonomi kreatif, digitalisasi UMKM, dan investasi berbasis inovasi.

“Kalau Kota Jambi ingin keluar dari jebakan ekonomi berbasis konsumsi, maka diversifikasi industri harus mulai dipercepat. Pemerintah perlu memberi insentif nyata bagi industri hilir, startup digital, dan penguatan UMKM,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa target pertumbuhan ekonomi 2026 pada kisaran 4,5 hingga 5,5 persen tetap realistis dicapai apabila pemerintah mampu menjaga iklim investasi, mempercepat reformasi birokrasi pelayanan usaha, serta meningkatkan efektivitas program RPJMD 2025–2029.

“Potensinya besar. Tapi tanpa eksekusi kebijakan yang disiplin dan konsisten, Kota Jambi berisiko terjebak menjadi kota jasa konsumtif tanpa transformasi ekonomi yang kuat,” pungkasnya.(J24-Rel/AsenkLeeSaragih)