Foto Ilustrasi. (S24)

Bus ALS Terbakar Usai Tabrakan dengan Truk Tangki di Muratara, 16 Tewas

Muratara, J24- Kecelakaan maut terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), wilayah Simpang Danau, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Dalam insiden tragis itu, sebanyak 16 orang dilaporkan meninggal dunia. Korban terdiri dari 14 penumpang bus ALS serta sopir dan kernet truk tangki BBM.

Sebuah bus Antar Lintas Sumatera (ALS) yang tengah dalam perjalanan menuju Medan bertabrakan frontal dengan truk tangki bahan bakar minyak (BBM) milik PT Seleraya yang datang dari arah berlawanan. Benturan keras tersebut memicu kebakaran hebat hingga kedua kendaraan hangus di lokasi kejadian.

Di tengah kepanikan, aksi nekat dilakukan pasangan suami istri asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yakni Ngadiono (44) dan Jumiatun (34), demi menyelamatkan diri dari kobaran api.

Ngadiono mengatakan, sesaat setelah tabrakan terjadi, api dengan cepat membesar dan melalap bagian bus. Tanpa memiliki banyak waktu, ia memecahkan kaca jendela dan mengajak istrinya melompat keluar dari dalam kendaraan.


“Tidak ada waktu lagi, saya pecahkan kaca dan langsung lompat bersama istri,” ujarnya. Tak lama setelah keduanya berhasil keluar, seorang penumpang lain bernama M Tahrul Hubaidi (31) juga berhasil menyelamatkan diri dengan cara serupa. Beberapa detik kemudian, terdengar ledakan keras dan api melalap seluruh badan bus.

Ngadiono mengaku sebenarnya sudah merasa cemas sejak awal perjalanan. Ia menilai kondisi bus tidak layak jalan karena beberapa kali mengalami kendala teknis, termasuk kebocoran radiator dan cairan mesin yang terus merembes.

Namun karena keterbatasan biaya untuk membeli tiket baru, mereka tetap melanjutkan perjalanan. Keputusan itu nyaris merenggut nyawa mereka.

Meski berhasil selamat, pasangan tersebut harus menyaksikan sejumlah penumpang lain terjebak di dalam bus yang terbakar tanpa sempat diselamatkan. Peristiwa itu meninggalkan trauma mendalam bagi korban selamat.

Korban Dievakuasi ke Palembang

Seluruh korban meninggal dunia telah dievakuasi ke RS Siti Aisyah, Kota Lubuklinggau. Sebanyak 16 kantong jenazah direncanakan diberangkatkan menuju Palembang menggunakan 16 unit ambulans guna proses identifikasi lanjutan.
Foto-Foto  IST

Kapolres Lubuklinggau, Adithia Bagus Arjunadi, mengatakan proses pemindahan jenazah akan mendapat pengawalan dari jajaran kepolisian.

Selain korban meninggal, terdapat empat penumpang bus yang selamat. Tiga orang mengalami luka bakar serius dan menjalani perawatan intensif di RS Siti Aisyah Lubuklinggau, sementara satu korban lainnya mengalami luka ringan dan dirawat di Puskesmas Karang Jaya.

Diduga Bus Masuk Jalur Berlawanan

Berdasarkan keterangan awal, kecelakaan diduga terjadi saat bus ALS masuk ke jalur berlawanan. Sebelum tabrakan, disebut sempat muncul percikan api dari bagian bus sehingga sopir berusaha mengendalikan kendaraan.

Namun jarak yang terlalu dekat membuat tabrakan frontal dengan truk tangki tidak dapat dihindari. Hingga kini, proses evakuasi masih terus dilakukan tim gabungan untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertinggal di dalam bangkai kendaraan.

Pihak kepolisian juga masih melakukan penyelidikan guna memastikan penyebab pasti kecelakaan tragis tersebut.

DPR RI Sampaikan Duka Mendalam

DPR RI turut menyampaikan belasungkawa atas tragedi yang merenggut 16 korban jiwa tersebut. Pimpinan dan Anggota DPR RI menyampaikan duka cita mendalam kepada seluruh keluarga korban yang ditinggalkan serta berharap para korban mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.


Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan transportasi dan pengawasan ketat terhadap kelayakan armada angkutan umum. Karena ternyata, di negeri ini, kadang penumpang harus bertaruh nyawa hanya untuk sampai tujuan. Sebuah kalimat yang seharusnya tidak pernah normal.

Evaluasi Armada Bus ALS

Tragedi kecelakaan maut antara bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026), meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Sedikitnya 16 nyawa melayang dalam insiden mengerikan yang diwarnai kobaran api dan ledakan hebat tersebut.

Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan alarm keras bagi pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk serius mengevaluasi keselamatan transportasi umum, khususnya armada bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).

Kesaksian para korban selamat membuka fakta yang memprihatinkan. Salah satu penumpang mengaku telah merasa cemas sejak awal perjalanan karena kondisi bus dinilai tidak layak jalan. Disebutkan adanya kebocoran radiator hingga cairan mesin yang terus merembes selama perjalanan. Namun armada tersebut tetap dipaksakan beroperasi demi mengejar perjalanan jarak jauh lintas provinsi.

Ironisnya, keluhan mengenai kondisi armada Bus ALS sebenarnya bukan kali pertama terdengar di tengah masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, kecelakaan yang melibatkan bus antarlintas kerap memunculkan dugaan lemahnya pengawasan terhadap kelaikan kendaraan. 

Banyak armada tua masih beroperasi di jalan raya dengan kondisi yang memprihatinkan, sementara penumpang sering kali tidak memiliki pilihan lain selain tetap menaiki kendaraan tersebut karena alasan ekonomi maupun keterbatasan transportasi.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan bersama Dinas Perhubungan daerah sudah seharusnya segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh armada bus ALS maupun perusahaan otobus lain yang beroperasi di jalur lintas Sumatera. 

Pemeriksaan tidak boleh sebatas formalitas administrasi, melainkan harus benar-benar memastikan kondisi teknis kendaraan aman digunakan.

Pengecekan rem, mesin, sistem pendingin, kelistrikan, ban, hingga standar keselamatan penumpang wajib dilakukan secara ketat dan berkala. Armada yang tidak memenuhi standar keselamatan harus langsung dihentikan operasionalnya sebelum memakan korban berikutnya.

Tragedi di Muratara menjadi pengingat pahit bahwa kelalaian kecil dalam dunia transportasi dapat berubah menjadi bencana besar dalam hitungan detik. Jangan sampai nyawa penumpang terus menjadi taruhan akibat armada yang sebenarnya sudah tidak layak jalan namun tetap dipaksakan beroperasi di jalan raya.

Masyarakat tentu berharap peristiwa memilukan ini menjadi titik evaluasi besar, bukan sekadar berita duka yang perlahan dilupakan setelah api padam dan proses evakuasi selesai. Karena keselamatan penumpang seharusnya menjadi prioritas utama, bukan dikalahkan oleh kepentingan operasional dan keuntungan semata. (J24-AsenkLeeSarabih/Berbagaisumber)