Jakarta, J24 – Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai anjloknya nilai tukar rupiah hingga menembus Rp17.300 per dolar AS pada akhir April 2026 menjadi sinyal serius terhadap meningkatnya kerentanan ekonomi nasional. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah saat ini bukan sekadar gejolak pasar jangka pendek, tetapi refleksi kombinasi tekanan global dan persoalan struktural domestik yang belum terselesaikan.

“Ini bukan pelemahan biasa. Ada tekanan geopolitik global, penguatan dolar AS, harga minyak dunia yang melonjak, lalu diperparah ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Semua bertemu dalam waktu yang sama,” ujar Noviardi Ferzi, di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Ia menjelaskan konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama perang AS-Israel melawan Iran dan ancaman gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz, telah mendorong investor global berpindah ke aset dolar AS sebagai safe haven. Situasi tersebut menyebabkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan sangat berat.

Namun menurut Noviardi, persoalan Indonesia menjadi lebih kompleks karena struktur ekonomi domestik masih sangat sensitif terhadap kenaikan harga energi dan penguatan dolar AS. Ketergantungan impor BBM yang mencapai 40 hingga 60 persen dari kebutuhan nasional membuat pelemahan rupiah langsung meningkatkan biaya energi nasional.

“Indonesia mengimpor sekitar 500 sampai 600 ribu barel minyak per hari. Ketika dolar naik dan minyak dunia naik bersamaan, dampaknya langsung menghantam APBN, subsidi energi, hingga biaya logistik nasional,” katanya.

Ia menilai kondisi ini berpotensi menciptakan tekanan inflasi berlapis. Kenaikan harga BBM non subsidi diperkirakan akan mendorong biaya transportasi, distribusi pangan, dan produksi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.

“Efeknya tidak berhenti di kurs atau SPBU saja. Ini akan menjalar ke harga kebutuhan pokok, ongkos distribusi, dan daya beli masyarakat. Yang paling rentan tentu kelompok menengah bawah karena pendapatan mereka tidak naik secepat inflasi,” ujarnya.

Noviardi mengingatkan bahwa tekanan inflasi tahap kedua atau second-round effect mulai menjadi ancaman nyata. Menurutnya, ketika energi menjadi lebih mahal, hampir seluruh sektor ekonomi akan ikut terdorong naik karena biaya produksi meningkat.

“BBM adalah urat nadi ekonomi. Kalau energi mahal, maka transportasi naik, logistik naik, pangan naik, manufaktur naik. Itu sebabnya pelemahan rupiah harus dilihat sebagai ancaman ekonomi riil, bukan sekadar angka di pasar uang,” jelasnya.

Ia juga menyoroti posisi Bank Indonesia yang dinilai berada dalam dilema besar. Di satu sisi BI harus menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar dan kebijakan moneter, namun di sisi lain ruang kebijakan semakin sempit karena pengetatan berlebihan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kalau suku bunga dinaikkan agresif, kredit melambat dan dunia usaha terpukul. Tapi kalau terlalu longgar, rupiah makin tertekan. Jadi BI sekarang berada dalam posisi yang sangat sulit,” katanya.

Meski inflasi nasional masih berada dalam target Bank Indonesia sekitar 3 persen, Noviardi menilai tekanan ke depan akan semakin berat apabila harga minyak dunia tetap tinggi dan konflik geopolitik global belum mereda.

Ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini seharusnya menjadi momentum evaluasi besar terhadap struktur ekonomi Indonesia, terutama ketergantungan impor energi dan lemahnya industrialisasi domestik.

“Selama impor energi masih besar dan industri nasional belum kuat, maka setiap krisis global akan terus memukul rupiah. Karena itu reformasi struktural tidak bisa lagi ditunda,” tegas Noviardi Ferzi.

Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat penguatan kilang nasional, hilirisasi industri, diversifikasi ekspor bernilai tambah, serta pengurangan ketergantungan terhadap impor strategis agar ekonomi nasional lebih tahan menghadapi tekanan global.

“Kalau tidak ada pembenahan struktural, tekanan rupiah bisa terus berulang setiap ada gejolak global. Dan yang paling berbahaya bukan hanya kurs, tetapi pelemahan daya beli masyarakat serta perlambatan ekonomi nasional secara perlahan,” tutupnya.(J24-Rel/AsenkLee)