Jambi, J24 - Ada orang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di balik meja, ada pula yang memilih turun langsung ke lapangan. Namun, perjalanan Drs. Sabar Siagian memperlihatkan bagaimana pengalaman di dunia jurnalistik dapat menjadi bekal ketika seseorang memasuki dunia usaha konstruksi.
Sabar Siagian bukan nama yang asing dalam dinamika pekerjaan konstruksi di Jambi. Saat ini ia dikenal sebagai Direktur CV Intan Bangun Persada, perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan tercatat mengikuti sejumlah proses tender pekerjaan pemerintah.
Di balik profesinya sebagai pengusaha jasa konstruksi, terdapat perjalanan yang menarik. Ia pernah berkecimpung dalam dunia jurnalistik, sebuah profesi yang menuntut ketelitian, keberanian mencari informasi, kemampuan membaca persoalan, sekaligus keberanian menyampaikan fakta kepada publik.
Perpindahan profesi tersebut bukan sekadar pergantian pekerjaan. Dunia jurnalistik dan konstruksi memang berbeda medan, tetapi keduanya sama-sama membutuhkan ketelitian, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca situasi dan yang paling penting, membangun kepercayaan.
Menjadi wartawan berarti berhadapan dengan berbagai karakter manusia dan persoalan. Seorang jurnalis dituntut tidak hanya mampu menulis, tetapi juga memahami persoalan dari berbagai sisi. Sabar Siagian pernah menjadi wartawan Majalah Tiro, terbitan Jakarta dan sejumlah media cetak lainnya kala itu.
Pengalaman tersebut menjadi modal yang tidak kecil ketika Sabar Siagian kemudian terjun ke dunia kontraktor. Juga menjabat sebagai PT. Bengkel Kreatif Utama (kelas menengah). Dalam dunia konstruksi, ia harus berhadapan dengan dokumen tender, persyaratan administrasi, perhitungan teknis, nilai pekerjaan, hingga dinamika pelaksanaan proyek. Setiap keputusan memiliki konsekuensi terhadap perusahaan.
Nama Sabar Siagian kemudian muncul dalam sejumlah pemberitaan terkait proses pengadaan pekerjaan konstruksi di Jambi.
Pada 2024, misalnya, CV Intan Bangun Persada menyampaikan keberatan terhadap proses tender salah satu proyek jembatan di Kota Jambi. Sabar Siagian ketika itu tampil sebagai Direktur CV Intan dan menyampaikan pandangan perusahaan mengenai proses evaluasi tender.
Setahun kemudian, namanya kembali muncul dalam pemberitaan terkait proses tender proyek infrastruktur. Pada Juni 2025, Sabar Siagian diberitakan mengkritisi proses tender pekerjaan di lingkungan Dinas PUPR Kota Jambi yang menurut pandangannya perlu dilakukan secara lebih transparan.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan pihak perusahaan dan bukan dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran dalam proses tender.
Pengalaman Jurnalistik dan Cara Membaca Persoalan
Pengalaman sebagai jurnalis memberi warna tersendiri dalam cara Sabar Siagian melihat sebuah persoalan. Jurnalistik mengajarkan pentingnya data, dokumen dan konfirmasi.
Prinsip tersebut menjadi semakin penting ketika diterapkan dalam dunia konstruksi, terutama pada proyek yang menggunakan anggaran pemerintah.
Di dunia tender, angka tidak sekadar angka. Di balik nilai penawaran terdapat perhitungan biaya material, tenaga kerja, peralatan, waktu pengerjaan dan risiko pekerjaan.
Karena itu, seorang kontraktor dituntut memahami bukan hanya pekerjaan di lapangan, tetapi juga proses administrasi dan regulasi yang menyertainya.
Sabar Siagian terlihat cukup aktif menyuarakan pandangannya ketika menemukan proses pengadaan yang menurutnya perlu dipertanyakan.
Pada Juni 2026, misalnya, CV Intan Bangun Persada menjadi salah satu peserta tender pembangunan Jembatan Desa Sumber Jaya, Kecamatan Kumpe Ulu, Kabupaten Muaro Jambi. Paket tersebut memiliki HPS sekitar Rp1,899 miliar dan kemudian dinyatakan gagal karena tidak ada peserta yang lulus evaluasi penawaran.
Sabar Siagian, sebagai Direktur CV Intan, menyampaikan keberatan dan meminta penjelasan mengenai hasil evaluasi tersebut.
Pada bulan yang sama, perusahaan yang dipimpinnya juga menjadi peserta tender pekerjaan drainase Jalan Padang Lamo dengan HPS sekitar Rp1,898 miliar. Proses tersebut kemudian dibatalkan setelah tidak ada peserta yang dinyatakan lolos evaluasi.
Bukan Sekadar Mengejar Proyek
Bagi pengusaha konstruksi, memenangkan tender memang penting. Tetapi mempertahankan perusahaan dalam jangka panjang membutuhkan lebih dari sekadar mendapatkan pekerjaan.
Ada kemampuan membaca peluang, mengelola sumber daya, memahami regulasi dan menghadapi risiko. Di titik inilah pengalaman Sabar Siagian sebagai jurnalis menjadi bagian menarik dari perjalanan profesinya.
Jurnalis terbiasa bertanya, apa yang terjadi, mengapa terjadi dan siapa yang bertanggung jawab. Pertanyaan-pertanyaan tersebut ternyata juga relevan dalam dunia konstruksi.
Mengapa sebuah pekerjaan gagal? Mengapa sebuah penawaran dinyatakan gugur? Apakah persyaratan telah diterapkan secara konsisten? Apakah prosesnya dapat dipertanggungjawabkan?
Pertanyaan semacam itu menunjukkan bahwa dunia kontraktor tidak semata-mata berbicara tentang semen, pasir, beton, alat berat dan gambar teknis. Ada pula aspek tata kelola yang menentukan sehat atau tidaknya industri konstruksi.
Berani Bersuara
Salah satu karakter yang terlihat dari kiprah Sabar Siagian sebagai pengusaha adalah keberaniannya menyampaikan kritik terhadap proses pengadaan yang dianggapnya bermasalah.
Pada 2025, Sabar Siagian bahkan secara terbuka mempersoalkan proses tender proyek jembatan di Jalan Sari Bakti, Kota Jambi. CV Intan Bangun Persada disebut menawarkan sekitar Rp3,89 miliar, sementara perusahaan yang kemudian ditetapkan sebagai pemenang mengajukan penawaran sekitar Rp4,07 miliar. Dalam pemberitaan tersebut, Sabar Siagian mempertanyakan alasan perusahaan yang dipimpinnya dinyatakan gugur.
Sikap seperti itu tentu membawa konsekuensi. Kritik terhadap proses pengadaan harus ditempatkan sebagai pendapat atau keberatan pihak yang bersangkutan sampai terdapat keputusan atau bukti resmi yang menyatakan adanya pelanggaran.
Namun, keberanian menyampaikan keberatan melalui mekanisme yang tersedia merupakan bagian dari dinamika dunia usaha.
Dunia konstruksi memiliki persaingan yang tidak ringan. Banyak perusahaan berebut pekerjaan dengan nilai miliaran rupiah. Pada kondisi seperti itu, integritas menjadi salah satu faktor yang menentukan keberlangsungan perusahaan.
Sabar Siagian yang dikenal dekat dengan sejumah pejabat penting di Jambi ini, juga beberapa kali menyoroti pentingnya pengawasan terhadap proyek pemerintah.
Dalam pemberitaan Juni, Juli 2026, ia meminta aparat penegak hukum mengawasi proses tender proyek di lingkungan PUPR, terutama untuk mencegah potensi praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kapasitasnya sebagai pelaku usaha jasa konstruksi.
Terlepas dari berbagai dinamika dan perdebatan yang muncul dalam proses tender, perjalanan Sabar Siagian menunjukkan satu hal: pengalaman di lapangan dapat membentuk cara seseorang melihat dunia usaha.
Dari Pena ke Lapangan
Perjalanan Sabar Siagian menarik bukan semata karena perubahan profesi dari jurnalis menjadi kontraktor. Yang lebih menarik adalah bagaimana pengalaman dari satu dunia dibawa ke dunia yang berbeda.
Dari dunia jurnalistik, ia mengenal pentingnya informasi, keberanian mempertanyakan sesuatu dan membangun komunikasi dengan berbagai pihak.
Di dunia konstruksi, kemampuan tersebut bertemu dengan kebutuhan akan ketelitian, perhitungan dan keberanian mengambil risiko. Dua dunia yang sekilas berbeda itu akhirnya bertemu dalam satu sosok.
Hari ini, Sabar Siagian dikenal sebagai Direktur CV Intan Bangun Persada. Namanya muncul dalam dinamika industri konstruksi Jambi, khususnya ketika berbicara mengenai tender dan tata kelola pengadaan pekerjaan pemerintah.
Perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa keberhasilan dalam dunia usaha tidak selalu lahir dari jalur yang lurus. Kadang seseorang harus berpindah medan, membawa pengalaman lama, belajar menghadapi tantangan baru dan membangun kembali reputasinya dari awal.
Dari pena ke proyek. Dari mencari berita ke mengelola pekerjaan. Dari mengamati persoalan di balik meja redaksi hingga berhadapan langsung dengan kerasnya persaingan dunia konstruksi.
Itulah perjalanan Sabar Siagian, seorang mantan jurnalis yang kemudian memilih membangun jalan profesionalnya di dunia kontraktor.
Dan seperti dunia jurnalistik yang pernah digelutinya, dunia konstruksi juga mengajarkan satu hal yang sama: nama baik dibangun perlahan, tetapi dapat dipertaruhkan hanya dalam satu keputusan.(J24-AsenkLeeSaragih)

0Komentar