Jambi, J24-Kualitas udara di Kota Jambi memburuk di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi. Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah, sementara ratusan titik panas terdeteksi di berbagai kabupaten.

Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (23/8/2026) mencatat 273 titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Jambi. Titik panas tersebut tersebar di Muaro Jambi, Batanghari, Tebo, Bungo, Merangin, Kerinci, Tanjung Jabung Barat, dan Tanjung Jabung Timur.

Peningkatan titik panas tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memperburuk kualitas udara apabila tidak segera ditangani, terutama ketika kondisi cuaca dan arah angin mendukung penyebaran asap ke kawasan permukiman.

Kota Jambi Masuk Kategori Tidak Sehat

Dampak peningkatan karhutla mulai terlihat pada kualitas udara di Kota Jambi. Berdasarkan pemantauan kualitas udara secara real time pada Minggu sekitar pukul 12.00 WIB, Kota Jambi mencatat AQI+ US sebesar 166 dan berada di posisi ketiga kota dengan indeks kualitas udara tertinggi di Indonesia dalam pemantauan tersebut.

Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi 77,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Kondisi ini masuk kategori tidak sehat.

Kota Jambi berada di bawah Palembang yang mencatat AQI+ US 284 dan Pontianak 217. Sementara itu, sejumlah kota lain yang juga mencatat kualitas udara buruk adalah Serpong dengan 163, Tangerang Selatan 160, Jakarta 155, Bandung 147, Tangerang 127, Palangkaraya 123, dan Pekanbaru 105.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan asap karhutla bukan lagi semata-mata persoalan di lokasi kebakaran. Dampaknya telah terasa hingga kawasan perkotaan dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.

ISPU Kota Jambi Ikut Meningkat

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jambi, Mahruzar, membenarkan adanya penurunan kualitas udara.

Menurut dia, pemantauan menggunakan parameter Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan adanya peningkatan dalam waktu relatif singkat.

Pada pukul 11.00 WIB, ISPU Kota Jambi masih berada di angka 89 atau kategori sedang. Namun satu jam kemudian, indeks tersebut meningkat menjadi 101, yang masuk kategori tidak sehat. Parameter kritis dalam pemantauan tersebut adalah PM2.5.

“Sedangkan untuk kondisi ini disarankan bagi yang rentan atau sensitif pernapasan untuk menggunakan masker dan mengurangi kegiatan di luar rumah,” kata Mahruzar, Minggu (23/8/2026).

Kenaikan ISPU dalam waktu satu jam menjadi sinyal bahwa kondisi udara dapat berubah dengan cepat. Karena itu, pemantauan tidak cukup dilakukan sekali dalam sehari, tetapi perlu dilakukan secara berkala dan disampaikan kepada masyarakat secara terbuka.

Penanganan Karhutla Harus Dipercepat

DLH Kota Jambi menyatakan terus memantau perkembangan kualitas udara, khususnya di tengah meningkatnya jumlah hotspot dan munculnya kabut asap di sejumlah wilayah.

DLH juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jambi untuk membahas kondisi asap.

“Kita saat ini lagi koordinasi untuk rapat koordinasi dengan Pak Kalak BPBD Kota tentang asap,” ujar Mahruzar.

Namun, memburuknya kualitas udara membutuhkan langkah yang lebih luas daripada sekadar pemantauan. Pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum, BPBD, Manggala Agni, pemerintah kabupaten, serta pihak terkait perlu memastikan sumber-sumber karhutla segera ditangani.

Sebanyak 273 hotspot yang tersebar di sejumlah wilayah Jambi harus menjadi dasar untuk memperkuat upaya pencegahan dan pemadaman, terutama terhadap titik yang berada di kawasan yang berpotensi menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Penanganan di lapangan juga perlu disertai langkah pencegahan agar kebakaran tidak meluas. Deteksi dini, patroli kawasan rawan, pembasahan lahan, pemadaman segera, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan harus berjalan bersamaan.

Sekolah Jangan Menjadi Pilihan Pertama

Memburuknya kualitas udara juga menimbulkan kekhawatiran terhadap aktivitas pendidikan. Anak-anak merupakan salah satu kelompok yang perlu mendapat perlindungan ketika konsentrasi PM2.5 meningkat.

Namun, kebijakan meliburkan sekolah semestinya tidak menjadi satu-satunya respons terhadap persoalan kabut asap.

Jika kondisi masih memungkinkan, pemerintah daerah dan satuan pendidikan dapat mengutamakan langkah perlindungan seperti membatasi aktivitas luar ruangan, menghentikan kegiatan olahraga di lapangan ketika kualitas udara memburuk, memastikan ruang kelas memiliki sirkulasi udara yang sesuai, serta menyiapkan mekanisme pembelajaran alternatif apabila kondisi berubah menjadi lebih buruk.

Dengan demikian, keselamatan peserta didik tetap menjadi prioritas tanpa serta-merta menghentikan proses belajar mengajar.

Yang paling mendesak justru adalah mempercepat penanganan sumber asap. Semakin cepat karhutla dipadamkan, semakin kecil kemungkinan kualitas udara memburuk hingga memaksa pemerintah mengambil keputusan untuk menghentikan kegiatan sekolah.

Masyarakat Diminta Tidak Mengabaikan Asap

Masyarakat Kota Jambi juga perlu meningkatkan kewaspadaan. Anak-anak, lansia, serta warga yang sensitif terhadap gangguan pernapasan disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Warga yang harus beraktivitas di luar rumah dapat menggunakan masker yang sesuai dan mengikuti perkembangan kualitas udara melalui kanal informasi resmi pemerintah.

Pada saat yang sama, masyarakat perlu menghindari aktivitas yang dapat menambah sumber asap dan segera melaporkan apabila menemukan kebakaran lahan.

Kondisi Jambi pada Minggu (23/8/2026) menunjukkan bahwa karhutla telah menjadi persoalan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat perkotaan. 273 hotspot di tingkat provinsi dan ISPU Kota Jambi yang menembus kategori tidak sehat merupakan peringatan yang tidak boleh diabaikan.

Pemerintah perlu bergerak cepat dari sekadar memantau menjadi memastikan sumber kebakaran benar-benar tertangani. Keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya diukur dari berkurangnya titik panas, tetapi juga dari membaiknya kualitas udara dan tetap terlindunginya aktivitas masyarakat, termasuk proses belajar mengajar.

Jambi sedang dalam kondisi waspada. Jangan menunggu kualitas udara semakin buruk hingga sekolah harus diliburkan. Padamkan sumber apinya, kendalikan asapnya, dan lindungi masyarakatnya.(J24-AsenkLeeSaragih)