Jambi, J24 - Pemerintah Kota Jambi berupaya menghidupkan kembali permainan tradisional dan kuliner masa lalu melalui Festival Layang-Layang dan Jajanan Bengen. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat budaya sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

Festival digelar di Lapangan Langit Biru, Kecamatan Jambi Timur, selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu (20-22 Agustus 2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 81.

Diza mengatakan, pemilihan layang-layang dan jajanan bengen sebagai bagian utama festival tidak terlepas dari kedekatannya dengan kehidupan masyarakat Jambi. Keduanya memiliki nilai sosial dan budaya serta menyimpan kenangan bagi generasi sebelumnya.

“Melalui permainan tradisional layang-layang dan lomba kuliner ini, kita diingatkan kembali pada permainan tradisional yang sederhana, tetapi memiliki nilai kebersamaan dan kenangan bagi masyarakat Kota Jambi,” ujar Diza.

Selain permainan tradisional, jajanan bengen menjadi perhatian dalam festival tersebut. Beragam makanan yang dahulu akrab dalam kehidupan masyarakat diperkenalkan kembali, terutama kepada generasi muda.

Menurut Diza, kuliner tradisional merupakan bagian dari identitas budaya yang perlu terus diperkenalkan sekaligus dikembangkan agar tidak berhenti sebagai warisan masa lalu.

“Festival Jajanan Bengen menghadirkan kembali cita rasa warisan masa lalu yang menjadi bagian dari identitas budaya Kota Jambi. Semangat inilah yang sejalan dengan komitmen Kota Jambi Bahagia Berbudaya,” katanya.

Pemkot Jambi juga melihat potensi ekonomi dari pengembangan kuliner tradisional. Jajanan bengen tidak hanya diharapkan bertahan sebagai bagian dari nostalgia, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk usaha yang memiliki nilai jual.

Festival tersebut mempertemukan unsur budaya dengan ekonomi kreatif melalui keterlibatan pelaku kuliner, UMKM, pengrajin, seniman, komunitas dan pelaku usaha lainnya. Kehadiran berbagai pelaku usaha itu diharapkan menciptakan ruang promosi sekaligus transaksi bagi produk lokal.

“Di balik penyelenggaraan festival ini ada pelaku kuliner, UMKM, pengrajin, seniman, komunitas dan berbagai pelaku usaha lainnya. Dengan demikian, diharapkan terjadi perputaran ekonomi di masyarakat,” ungkap Diza.

Karena itu, Pemkot Jambi berharap kegiatan budaya tidak berhenti sebagai agenda seremonial dalam setiap peringatan hari besar. Festival diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi sektor budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif.

Kegiatan ini diharapkan bukan hanya menjadi acara tahunan, tetapi menjadi bagian dari ekosistem budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Jambi,” tegasnya.

Selain festival layang-layang dan jajanan tradisional, rangkaian kegiatan juga diisi dengan olahraga, panjat pinang dan pertunjukan musik.

Pemkot Jambi turut menghadirkan layanan Perlindungan Sosial (Perlinsos) serta Identitas Kependudukan Digital (IKD). Kehadiran berbagai kegiatan tersebut menjadikan festival sebagai ruang yang mempertemukan hiburan, pelayanan publik, budaya dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Di tengah perubahan pola hiburan generasi muda yang semakin banyak bergeser ke ruang digital, pengenalan kembali permainan tradisional dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal.

Melalui festival tersebut, Pemkot Jambi berupaya menjadikan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI bukan sekadar perayaan, tetapi juga sarana mempertemukan generasi sekarang dengan tradisi yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Jika dikembangkan secara konsisten, layang-layang dan jajanan bengen berpeluang melampaui fungsi nostalgia. Keduanya dapat dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Jambi. (J24/Red).