Dari ribuan kasus tersebut, ISPA menjadi penyakit yang paling mendominasi dengan 1.784 kasus. Sementara diare tercatat 184 kasus dan conjunctivitis atau gangguan pada mata sebanyak 36 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muarojambi, Aang Hambali, mengatakan jumlah kasus tersebut terus mengalami peningkatan seiring masih berlangsungnya musim kemarau dan karhutla di wilayah tersebut.
Kasusnya terus meningkat. Sampai tanggal 6 September 2026, sudah ada 2.004 kasus penyakit yang terpantau di seluruh kecamatan di Muaro Jambi,” ungkap Aang, Selasa siang (8/9/2026).
Dominasi ISPA menjadi perhatian serius. Paparan asap dan memburuknya kualitas udara dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang masih melakukan aktivitas di luar ruangan.
Kondisi tersebut membuat warga yang berada di wilayah terdampak harus meningkatkan kewaspadaan. Anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki kondisi rentan terhadap gangguan pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
Aang mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan perkembangan kasus di setiap kecamatan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan dampak kesehatan yang muncul selama kemarau dan karhutla berlangsung.
“Kami terus melakukan pemantauan. Karena kondisi karhutla dan kemarau ini berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama peningkatan kasus ISPA,” ujarnya.
Dinas Kesehatan juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi udara. Aktivitas di luar rumah sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara memburuk.
“Masyarakat kami imbau mengurangi aktivitas di luar rumah jika kondisi udara tidak baik, menggunakan masker dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan kesehatan,” tandas Aang.
Dengan jumlah kasus yang telah menembus angka 2.000, karhutla di Muaro Jambi kini bukan hanya persoalan lingkungan. Asap dan kualitas udara telah menjadi ancaman nyata yang ikut membebani kesehatan masyarakat. (J24/Red).

0Komentar