Jambi, J24-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Jambi dan sejumlah wilayah di sekitarnya, Rabu pagi (16/9/2026). Kualitas udara yang memburuk hingga mencapai kategori sangat tidak sehat memaksa pemerintah kembali mengalihkan pembelajaran tatap muka pada jenjang PAUD/TK, SD hingga SMP menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring. Bahkan jadwal penerbangan di Bandara Sultah Taha Syaifuddin Jambi dihentikan sementara akibat jarak pandang terbatas.
Pemerintah Kota Jambi menetapkan kebijakan tersebut mulai Rabu, 16 September 2026, setelah hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan konsentrasi pencemar berada pada level yang dinilai berisiko terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.
Berdasarkan pemantauan Stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) Provinsi Jambi pada Selasa malam, 15 September 2026 pukul 20.00 WIB, ISPU Kota Jambi tercatat 234 untuk parameter PM2,5, masuk kategori sangat tidak sehat. Pemerintah Kota Jambi menyatakan pembelajaran tatap muka dialihkan ketika ISPU berada di atas angka 200.
Pengalihan pembelajaran bukan pertama kali dilakukan selama musim karhutla tahun ini. Sejak akhir Agustus, pemerintah daerah telah beberapa kali menyesuaikan kegiatan belajar mengajar mengikuti perubahan kualitas udara.
Pada awal September, Pemkot Jambi masih menerapkan kebijakan berbeda berdasarkan tingkat kualitas udara dan jenjang pendidikan. Namun, kondisi kembali memburuk sehingga seluruh jenjang TK/PAUD, SD, dan SMP di Kota Jambi kini diarahkan mengikuti PJJ.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Jambi sekaligus Juru Bicara Pemkot Jambi, Saleh Ridho, menyampaikan bahwa pembelajaran tatap muka kembali dihentikan selama tiga hari dan dilaksanakan melalui sistem daring atau PJJ.
Kebijakan tersebut merupakan langkah perlindungan terhadap peserta didik dari paparan udara tercemar. Pemerintah juga mengimbau orang tua membatasi aktivitas anak di luar rumah dan memastikan penggunaan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Bagi dunia pendidikan, keputusan ini memiliki konsekuensi yang tidak sederhana. Guru harus kembali menyesuaikan metode pengajaran, sementara siswa dan orang tua harus beradaptasi dengan pembelajaran dari rumah.
Namun, di tengah kondisi udara yang memburuk, kegiatan belajar mengajar bukan satu-satunya persoalan. Ancaman yang lebih besar adalah paparan asap terhadap kesehatan masyarakat.
Hotspot Masih Menjadi Ancaman
Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi tidak dapat dilepaskan dari aktivitas karhutla di sejumlah wilayah Provinsi Jambi maupun daerah di luar provinsi.
Data yang dihimpun RRI pada periode 1 hingga 14 September 2026 mencatat 2.766 hotspot terdeteksi di Provinsi Jambi. Angka tersebut menunjukkan bahwa ancaman kebakaran masih berlangsung meskipun jumlah titik panas dapat berubah secara cepat berdasarkan waktu pengamatan dan kondisi lapangan.
Sejumlah wilayah yang sejak beberapa bulan terakhir menjadi perhatian dalam penanganan karhutla antara lain Muaro Jambi, Batanghari, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Tebo, Sarolangun dan Merangin. BPBD Provinsi Jambi sebelumnya telah memetakan tujuh wilayah tersebut sebagai daerah rawan karhutla.
Kondisi di Muaro Jambi bahkan mendorong pemerintah kabupaten menaikkan status penanganan karhutla menjadi Siaga Tanggap Darurat Bencana pada akhir Agustus. Keputusan tersebut diambil karena titik api masih ditemukan di sejumlah lokasi, terutama wilayah Jambi Luar Kota.
Karhutla juga telah dilaporkan terjadi di Batanghari serta sejumlah wilayah Tanjung Jabung Timur, termasuk Rantau Rasau dan Mendahara. Personel Manggala Agni sebelumnya juga diperbantukan ke Sumatera Selatan untuk membantu penanganan kebakaran di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir.
Asap Tidak Mengenal Batas Administrasi
Persoalan karhutla menjadi semakin kompleks karena asap tidak berhenti mengikuti batas kabupaten atau provinsi.
BMKG Jambi sebelumnya menyampaikan bahwa sebagian asap yang masuk ke wilayah Jambi dapat berasal dari kebakaran di luar provinsi. Pergerakan asap dipengaruhi kondisi angin sehingga sumber kebakaran di Sumatera Selatan maupun wilayah lain dapat berkontribusi terhadap kualitas udara di Jambi.
Karena itu, memburuknya kualitas udara di Kota Jambi tidak selalu berarti seluruh sumber asap berada di dalam wilayah Kota Jambi.
Kondisi atmosfer, arah angin, lokasi kebakaran, jenis lahan yang terbakar dan intensitas kebakaran menjadi faktor yang menentukan seberapa luas asap menyebar.
Persoalan ini semakin berat ketika kebakaran terjadi di kawasan lahan gambut. Api pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan membutuhkan proses pendinginan setelah api permukaan berhasil dipadamkan. Karakter tersebut membuat penanganan karhutla membutuhkan waktu dan pengawasan berkelanjutan.
Puncak Kemarau Memperbesar Risiko
Karhutla tahun ini berlangsung bersamaan dengan periode puncak musim kemarau di Provinsi Jambi. BMKG Jambi sebelumnya memperingatkan bahwa Agustus hingga September menjadi periode dengan risiko kebakaran yang tinggi. Kondisi kering membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar, sementara angin dapat mempercepat penyebaran api.
Pada pertengahan September, BMKG masih mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. Prakiraan cuaca menunjukkan kondisi cerah hingga berawan masih mendominasi sejumlah wilayah Jambi, meskipun peluang hujan mulai muncul di beberapa kawasan pada 18–19 September.
Hujan memang dapat membantu menurunkan konsentrasi asap dan membasahi lahan, tetapi hujan yang tidak merata belum otomatis mengakhiri ancaman kebakaran.
Kabut asap bukan hanya persoalan jarak pandang. Partikel halus, terutama PM2,5, dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Kondisi udara yang berada pada kategori sangat tidak sehat menjadi salah satu alasan pemerintah mengambil langkah khusus terhadap kegiatan pendidikan. Pemerintah Kota Jambi sebelumnya juga telah mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk.
Di Muaro Jambi, pemerintah daerah sebelumnya melaporkan dampak kabut asap terhadap sektor kesehatan, termasuk meningkatnya perhatian terhadap kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Gangguan juga merambah sektor pendidikan sehingga kegiatan tatap muka sempat dialihkan menjadi PJJ.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kawasan yang terbakar. Ketika asap bergerak mengikuti arah angin, masyarakat yang berada jauh dari lokasi api tetap dapat merasakan dampaknya.
Penanganan Membutuhkan Respons Lintas Wilayah
Pemerintah Provinsi Jambi bersama TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni dan berbagai unsur lainnya telah melakukan patroli, pemadaman, pemantauan hotspot hingga operasi penanganan di kawasan rawan.
Data pemerintah sebelumnya mencatat adanya 81 pos penanganan karhutla dengan dukungan sekitar 5.100 personel dari berbagai unsur. Hingga akhir Agustus, tercatat ratusan kejadian karhutla di Provinsi Jambi.
Penanganan juga mencakup upaya pencegahan, deteksi dini, patroli serta respons cepat ketika titik api ditemukan.
Namun, karakter karhutla yang dinamis membuat keberhasilan pemadaman di satu lokasi belum otomatis menghilangkan ancaman. Titik panas dapat muncul di lokasi lain, sementara asap dari wilayah berbeda dapat kembali terbawa angin menuju permukiman.
Untuk sementara, ruang kelas di Kota Jambi kembali digantikan layar komputer dan telepon seluler. Keputusan PJJ menjadi gambaran paling nyata bagaimana karhutla telah masuk ke ruang kehidupan masyarakat perkotaan. Kebakaran yang terjadi di kawasan hutan, lahan gambut, semak maupun perkebunan pada akhirnya dapat memengaruhi kegiatan sekolah di pusat kota.
Pemerintah Kota Jambi menyatakan pemantauan kualitas udara akan terus dilakukan untuk menentukan kebijakan pendidikan berikutnya. Jika kualitas udara membaik dan berada pada kondisi yang memungkinkan, kegiatan pembelajaran tatap muka dapat kembali disesuaikan.
Sementara itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker dan tidak melakukan pembakaran terbuka yang berpotensi memperburuk kondisi.
Kabut asap yang kembali menebal pada pertengahan September menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla belum selesai. Selama musim kemarau masih berlangsung, penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan, pemantauan hotspot, pemadaman dini, perlindungan kesehatan masyarakat dan koordinasi lintas wilayah tetap menjadi bagian penting untuk mencegah krisis asap semakin meluas.
Jadwal Penerbangan Dihentikan Sementara
Sehubungan dengan kabut asap menyelimuti Provinsi Jambi yang mengakibatkan terbatasnya jarak pandang (visibility) menjadi 1.100 Meter pada hari Rabu (16/9/2026) Pukul 08.00 WIB, terdapat Lima penerbangan dari/menuju Bandara Bandara Sultan Thaha mengalami penundaan keberangkatan.
Penundaan keberangkatan yang disebabkan oleh terbatasnya jarak pandang akibat kabut asap ini dilakukan guna menjaga keselamatan baik penumpang maupun kru pesawat.
Adapun penerbangan dari/menuju Bandara Sultan Thaha yang mengalami keterlambatan (delay) hari ini sebagai berikut:
1. Citilink (QG 961) Tujuan CGK
2. Batik Air (ID 6805) Tujuan CGK
3. Susi Air (SI 7218) Tujuan SIQ
4. Garuda Indonesia (GA 127) Tujuan CGK
5. Super Air Jet (IU 843) Tujuan CGK
Tim operasional Bandara Sultan Thaha telah berkoordinasi dengan pihak maskapai dan instansi terkait guna memastikan penanganan terhadap penumpang yang mengalami penundaan keberangkatan serta secara rutin melakukan pembaharuan informasi terkait jadwal keberangkatan/kedatangan penerbangan yang terdampak kabut asap.
Bagi masyarakat yang akan berpergian melalui Bandara Sultan Thaha diimbau untuk memantau jadwal penerbangannya dan berkoordinasi dengan pihak maskapai guna memastikan jadwal keberangkatannya.
Manajemen PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Sultan Thaha senantiasa bersinergi dengan seluruh stakeholder bandara guna memberikan pelayanan sepenuh hati bagi seluruh pengguna jasa bandara serta berharap agar kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi dapat segera teratasi. (J24-AsenkLeeSaragih)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

0Komentar