Foto By: JPO AsenkLeeSaragih.

Jambi, J24- Rencana Pemerintah Kota Jambi mengembangkan Kolam Retensi Griya Lingga Permai di kawasan Paal V, Kecamatan Kotabaru, menjadi destinasi wisata air membuka peluang baru bagi pengembangan ruang publik yang rekreatif sekaligus mendukung upaya pengendalian banjir di Kota Jambi.

Kolam retensi yang selama ini berfungsi sebagai bagian dari sistem pengendalian genangan air tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata berbasis alam, termasuk sebagai lokasi pemancingan alami yang dapat dinikmati masyarakat.

Dengan penataan kawasan yang tepat, Kolam Retensi Griya Lingga Permai berpeluang menjadi salah satu destinasi wisata alternatif di Kota Jambi. Selain menawarkan ruang terbuka untuk bersantai bersama keluarga, kawasan ini juga berpotensi menarik minat para penghobi memancing.

Salah satu gagasan yang dapat dipertimbangkan adalah penebaran berbagai jenis ikan konsumsi setelah pekerjaan fisik dan penataan kawasan selesai, dengan tetap memperhatikan kualitas air, keseimbangan ekosistem, serta fungsi utama kolam retensi.


Jenis ikan yang berpotensi dibudidayakan antara lain nila, lele, ikan mas, gabus, patin, gurami, serta sejumlah ikan lokal yang sesuai dengan kondisi perairan setempat.

Keberagaman jenis ikan tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung, khususnya komunitas pemancing. Jika dikelola secara berkelanjutan, kawasan ini bahkan berpeluang berkembang menjadi salah satu lokasi pemancingan alami yang menonjol di Kota Jambi.

Tak hanya menawarkan aktivitas memancing, pengembangan kawasan juga dapat diarahkan pada penyediaan ruang bersantai, jalur pejalan kaki, tempat duduk, area kuliner, serta fasilitas pendukung lainnya yang tetap selaras dengan fungsi kolam sebagai infrastruktur pengendalian banjir.

Namun, pengembangan wisata air perlu dirancang secara cermat agar tidak mengganggu kapasitas tampung air, sistem drainase, maupun pemeliharaan kolam retensi. Aspek keselamatan pengunjung, kebersihan lingkungan, dan pengelolaan sampah juga perlu menjadi perhatian utama.

Apabila direncanakan dan dikelola dengan baik, Kolam Retensi Griya Lingga Permai tidak hanya berpotensi menjadi bagian dari solusi pengendalian banjir, tetapi juga dapat menghadirkan ruang rekreasi baru yang bermanfaat bagi masyarakat.

Gagasan ini sekaligus membuka peluang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi warga di sekitar kawasan. Dengan memadukan fungsi infrastruktur, pelestarian lingkungan, dan rekreasi, kolam retensi tersebut berpeluang menjadi salah satu ruang publik yang menarik di kawasan Paal V, Kotabaru, Kota Jambi. 

Proyek yang menelan anggaran Rp219 miliar tersebut dirancang bukan semata sebagai infrastruktur pengendali genangan, tetapi juga sebagai ruang publik yang dilengkapi taman kota, jalur pedestrian, kawasan kuliner dan fasilitas rekreasi. 

Pemerintah Kota Jambi bahkan menargetkan kawasan itu menjadi salah satu ikon wisata air baru di tengah kota. Namun, di tengah gagasan menghadirkan destinasi baru tersebut, muncul pertanyaan lain yang tak kalah penting, bagaimana masa depan  Danau Sipin, salah satu kawasan perairan yang telah lebih dahulu menjadi bagian dari wajah Kota Jambi?

Pertanyaan ini relevan karena Danau Sipin bukan sekadar kawasan wisata.  Danau tersebut merupakan bagian dari sistem perairan Kota Jambi dan selama ini menjadi ruang aktivitas masyarakat, mulai dari usaha kecil, perikanan, jasa perahu hingga kegiatan rekreasi.

Dengan demikian, pembangunan destinasi baru seharusnya tidak berdiri sendiri. Penataan Griya Lingga Permai dan revitalisasi Danau Sipin dapat ditempatkan dalam satu kebijakan besar pengembangan wisata air, pengendalian banjir, perlindungan lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat.

Pengendalian Banjir Sekaligus Ruang Publik

Kolam Retensi Griya Lingga Permai berada di kawasan Paal V, Kota Jambi. Pemerintah merancang kawasan ini sebagai bagian dari upaya mengatasi persoalan genangan di wilayah perkotaan yang padat.Cari Wisata

Data teknis yang dipublikasikan menyebut kolam tersebut memiliki luas genangan sekitar 83.000 meter persegi, kedalaman rata-rata 1,8 meter dan kapasitas tampungan sekitar 99.600 meter kubik. Kebutuhan lahan untuk keseluruhan kawasan mencapai sekitar 97.053 meter persegi.

Wali Kota Jambi dr Maulana sebelumnya menyampaikan bahwa kolam retensi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menahan limpasan air hujan, tetapi juga akan dikembangkan sebagai ruang rekreasi, olahraga dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Konsep yang disiapkan mencakup jalur pedestrian, taman kota dan area kuliner. Dalam perencanaan tersebut, fungsi utama sebagai infrastruktur pengendalian banjir tetap menjadi dasar. Sementara fungsi wisata menjadi nilai tambah agar infrastruktur air tidak hanya bekerja secara teknis, tetapi juga memberi manfaat sosial dan ekonomi.

Pada Oktober 2025 lalu, pemerintah menyebut anggaran awal pembangunan mencapai Rp75 miliar, dengan sumber pendanaan dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jambi dan Pemerintah Kota Jambi.

Adapun angka Rp219 miliar yang belakangan disebut dalam perdebatan publik perlu dijelaskan secara terbuka oleh pemerintah, termasuk apakah angka tersebut merupakan total kebutuhan investasi, akumulasi pembangunan beberapa tahap, atau mencakup komponen pekerjaan lainnya.

Transparansi mengenai struktur anggaran menjadi penting agar masyarakat dapat memahami secara utuh skala proyek yang sedang direncanakan.(J24-AsenkLeeSaragih)