Jambi, J24 - Sudah tiga pekan berlalu sejak sistem layanan ATM dan mobile banking Bank 9 Jambi mengalami gangguan. Namun hingga Kamis (12/3/2026), layanan tersebut belum juga kembali normal. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga mulai memicu kepanikan di kalangan nasabah.

Di berbagai kantor cabang, antrean panjang terlihat hampir setiap hari. Nasabah yang ingin melakukan transaksi sederhana seperti penarikan uang tunai, transfer, hingga cek saldo, terpaksa datang langsung ke teller. 

Situasi ini semakin berat karena sebagian besar nasabah Bank 9 Jambi adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menggantungkan transaksi gaji dan kebutuhan keluarga pada bank milik daerah tersebut.

Ironisnya, gangguan sistem ini terjadi saat masyarakat tengah bersiap menghadapi Hari Raya Idulfitri, momen ketika kebutuhan finansial meningkat. Alih-alih memberikan kemudahan, layanan perbankan justru terhambat, membuat nasabah merasa terombang-ambing tanpa kepastian.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah minimnya penjelasan terbuka dari pihak Bank 9 Jambi mengenai apa sebenarnya yang terjadi. Hingga kini, publik belum mendapatkan keterangan yang jelas dan transparan: apakah gangguan ini hanya masalah teknis, pemeliharaan sistem, atau ada persoalan lain yang lebih serius.

Ketiadaan informasi yang jujur dan transparan inilah yang memicu spekulasi dan ketakutan di tengah masyarakat. Keluhan nasabah pun membanjiri media sosial. Di grup Facebook Rakyat Jambi, salah seorang nasabah, Wilda Oktafia, meluapkan kegelisahannya.

“ATM & M.Banking BANK JAMBI hingga hari ini masih belum bisa diakses. Yook Bank Jambi, mohon dipercepat! Kami dak telap lagi nak ngantri di teller. Sampai sekarang belum ada konfirmasi yang pasti dari pihak Bank Jambi. Sampai kapan ini akan berlalu,” tulisnya.

Ungkapan tersebut hanyalah satu dari sekian banyak suara nasabah yang merasa ditinggalkan tanpa kepastian.

Kini, kegelisahan mulai berubah menjadi ancaman serius. Di berbagai percakapan masyarakat, muncul wacana untuk melakukan penarikan dana secara serentak jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penjelasan yang jujur dari pihak bank. 

Bagi nasabah, uang yang mereka simpan adalah hasil kerja keras yang tidak bisa dipertaruhkan dalam ketidakjelasan.

Jika kepercayaan publik runtuh, dampaknya tidak hanya dirasakan nasabah, tetapi juga bisa mengguncang reputasi dan stabilitas Bank 9 Jambi sebagai bank kebanggaan daerah. Karena itu, publik menuntut satu hal sederhana: kejujuran dan transparansi.

Manajemen Bank 9 Jambi seharusnya segera tampil ke publik, menjelaskan secara terbuka apa yang sebenarnya terjadi, apa langkah perbaikannya, dan kapan layanan akan kembali normal. Tanpa itu, keresahan nasabah akan terus membesar dan bukan tidak mungkin berubah menjadi gelombang penarikan dana yang sulit dikendalikan.

Kepercayaan adalah fondasi utama perbankan. Jika kepercayaan itu retak, maka yang dipertaruhkan bukan hanya layanan digital yang mati, tetapi masa depan Bank 9 Jambi itu sendiri.

Antre Sejak Subuh untuk Transaksi Manual

Dampak pemblokiran sistem telah memicu antrean panjang nasabah di kantor pusat maupun cabang setiap harinya. Nasabah yang ingin melakukan penarikan uang secara manual terpaksa harus datang sejak dini hari demi mendapatkan nomor antrean yang terbatas.

Seorang pensiunan ASN yang di KCP Thehok, Kota Jambi, mengaku harus berangkat setelah sahur agar tidak kehabisan nomor. "Setengah enam, habis sahur saya sudah di sini, tapi ternyata sudah ada yang lebih dulu menunggu, mereka jam 5 sudah di sini," katanya.

Kondisi ini menyulitkan banyak nasabah, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di bulan Ramadan. Banyak nasabah yang terpaksa pulang dengan tangan hampa karena nomor antrean habis sejak pagi hari.

Berdasarkan penelusuran, kerugian yang dialami nasabah perorangan bervariasi, mulai dari Rp 17.000.000 hingga Rp 24.000.000 per orang.

Rp 19 Miliar Dicuri Hacker Terdeteksi di Crypto

Sebelumnya Gubernur Jambi, Al Haris kepada wartawan mengungkapkan bahwa sebagian dana nasabah Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jambi yang dibobol peretas (hacker) telah terdeteksi keberadaannya.

Dari total Rp 143 miliar yang hilang, sekitar Rp 19 miliar di antaranya teridentifikasi mengalir ke mata uang kripto (crypto).

"Itu terdeteksi ada Rp 19 miliar di crypto, kemudian ada juga ke Bank Permata dan Sampoerna," ujar Al Haris saat diwawancarai wartawan, Senin malam (9/3/2026).

Pihaknya telah meminta Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk segera melakukan upaya penarikan kembali dana tersebut agar kerugian nasabah dapat diminimalisir.

Sedangkan Tim Penyidik Polda Jambi terus melakukan pendalaman atas kasus peretasan yang telah menguras saldo lebih dari 6.000 rekening nasabah ini.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jambi, Kombes Pol Taufik Nurmandia, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Bareskrim Polri untuk mengusut tuntas kasus ini. "Benar, kita dalam tahap komunikasi dengan Bareskrim Polri," kata Taufik.

Akses Mobile Banking dan ATM Masih Diblokir

Kasus kejahatan peretasan yang diduga terjadi pada Minggu (22/2/2026) ini telah menyebabkan akses mobile banking dan ATM Bank Jambi diblokir hingga 12 Maret 2026 ini. 

Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Jambi, Zulfikar, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan pemenuhan instrumen keamanan (security) yang diminta otoritas.

"Kita memenuhi instrumen security yang diminta otoritas ini terus berjalan, ini dari sisi vendor bukan dari Bank Jambinya," ujar Zulfikar.

Dia menambahkan bahwa evaluasi sistem IT dilakukan secara komprehensif dan holistik guna mencegah serangan serupa terulang kembali. Bank Jambi menargetkan akses kembali normal sebelum masa cuti bersama Hari Raya Idul Fitri. (J24-Tim)