Jambi, J24 -Sorotan publik yang menguat di media sosial terkait persoalan sampah di Kota Jambi akhirnya memicu respons cepat dari Pemerintah Kota Jambi. Setelah berbagai unggahan warga memperlihatkan tumpukan sampah di sejumlah titik strategis, Pemkot kini bergerak melakukan pembenahan sistem pengelolaan secara menyeluruh.
Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., bersama Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., turun langsung ke lapangan melakukan pemantauan ke sejumlah transfer depo sampah, Rabu (22/4/2026). Seperti meninjau Depo Sampah Depan Kantor Camat Telanaipura.
Sehari sebelumnya, tepatnya Selasa (21/04/2026) Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., bersama Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., turun langsung ke lapangan melakukan pemantauan ke sejumlah transfer depo sampah.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak lagi sekadar merespons secara administratif, tetapi mulai melakukan perubahan sistemik.
Viralnya persoalan sampah memperlihatkan satu hal yang tak bisa lagi ditutup-tutupi, sistem lama berbasis TPS tidak lagi efektif.
Tumpukan sampah di pinggir jalan, munculnya TPS liar, hingga keterlambatan pengangkutan menjadi potret yang berulang. Tekanan publik pun memaksa adanya langkah konkret.
Pemkot Jambi kini mengambil kebijakan strategis menutup seluruh TPS dalam kota, mengalihkan sistem ke transfer depo sampah, menambah 20 armada pengangkut.
Kemudian mendorong pengelolaan berbasis masyarakat melalui OPBM (Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat). Merancang Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Talang Gulo.
Transfer Depo Jadi Tulang Punggung Baru
Dalam pemantauan lapangan, Pemkot Jambi mengunjungi lima titik depo utama yakni Belakang Pasar Mama (Kota Baru), Pasar Modern (Jambi Selatan), Depan Pasar Angso Duo (Kecamatan Pasar), Kawasan Kantor Pertamina (Jambi Timur) dan Depo Sampah Depan Kantor Camat Telanaipura.
Depo ini akan menjadi pusat transit sebelum sampah diangkut ke TPA, menggantikan fungsi TPS yang selama ini kerap menjadi sumber masalah.
Wali Kota Maulana menegaskan bahwa sistem baru akan mengubah pola lama menjadi lebih terstruktur. “Sampah akan diambil langsung dari rumah ke rumah menuju depo terdekat,” ujarnya.
Pemkot juga menekankan pendekatan berbasis partisipasi warga melalui OPBM. Program ini akan mulai berjalan melalui Kampung Bahagia tahap I yang ditargetkan rampung akhir April.
Jika berjalan sesuai rencana, sistem ini akan menghapus praktik lama pembuangan sampah sembarangan.
“Ke depan tidak ada lagi masyarakat membuang sampah di TPS pinggir jalan maupun TPS liar,” tegas Maulana.
Ujian sesungguhnya, konsistensi, bukan sekadar respons. Meski langkah cepat ini diapresiasi, tantangan terbesar justru ada di tahap implementasi.
Pengamat menilai, pola respons berbasis viral bukan hal baru dalam tata kelola perkotaan. Namun keberhasilan kebijakan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah, kesiapan infrastruktur, disiplin masyarakat, pengawasan berkelanjutan.
Tanpa itu, reformasi berisiko menjadi respons sesaat. Pemkot Jambi menargetkan sistem baru ini mampu mengurangi tumpukan sampah, meningkatkan kebersihan kota, menekan risiko penyakit dan mengubah sampah menjadi sumber energi.
Namun pertanyaan besarnya sederhana, tapi kejam, apakah ini awal perubahan, atau hanya reaksi sementara setelah viral?
Karena pada akhirnya, masalah sampah bukan sekadar urusan pemerintah. Ini tentang kebiasaan kolektif yang sudah terlalu lama dibiarkan. Dan mengubah kebiasaan, seperti semua orang tahu tapi jarang akui, jauh lebih sulit daripada membuat kebijakan.(J24-AsenkLeeSaragih)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
0Komentar