Jambi, J24- Sudah tiga bulan berlalu. Bukan tiga hari, bukan tiga minggu. Namun hingga kini, layanan mobile banking Bank 9 Jambi masih belum sepenuhnya pulih.
Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar gangguan teknis. Tapi bagi ribuan nasabah, terutama aparatur sipil negara (ASN) yang menggantungkan transaksi harian pada layanan digital ini adalah masalah serius yang menyentuh kebutuhan hidup sehari-hari.
Di era ketika transaksi keuangan bisa dilakukan dalam hitungan detik, nasabah Bank 9 Jambi justru dipaksa kembali ke pola lama: antre panjang, menunggu berjam-jam, bahkan berdesakan hanya untuk mengakses uang mereka sendiri.
Ironisnya, situasi ini terjadi di tengah tuntutan digitalisasi layanan publik yang selama ini digaungkan. Keluhan demi keluhan terus bermunculan. Tidak semua mesin ATM berfungsi normal. Hanya beberapa titik yang bisa digunakan, terutama untuk penarikan gaji. Akibatnya, antrean tak terhindarkan.
Lebih memprihatinkan, sejumlah nasabah mengaku kesulitan mencairkan gaji hingga Tunjangan Hari Raya (THR). Hak yang seharusnya bisa diakses dengan mudah, justru terhambat oleh sistem yang belum kunjung stabil.
Pertanyaannya sederhana, sampai kapan?
Pihak manajemen Bank 9 Jambi memang telah menyampaikan bahwa saat ini sedang dilakukan pembenahan sistem teknologi informasi secara menyeluruh, termasuk penguatan keamanan siber. Evaluasi disebut dilakukan setiap hari, dengan harapan layanan digital dapat kembali normal sebelum cuti bersama Lebaran.
Namun bagi nasabah, janji tanpa kepastian waktu adalah persoalan tersendiri. Selama tiga bulan terakhir, publik hanya disuguhkan proses, bukan hasil. Sementara kebutuhan transaksi tidak bisa ditunda, dan kepercayaan tidak bisa terus-menerus diminta untuk bersabar.
Solusi sementara seperti membuka layanan manual di akhir pekan memang patut diapresiasi. Namun langkah tersebut belum menyentuh akar masalah, yakni pemulihan layanan digital yang menjadi kebutuhan utama masyarakat saat ini.
![]() |
| Bangunan Bank 9 Jambi megah tak berbanding lurus dengan sistimnya. (IST) |
Dalam kondisi seperti ini, transparansi menjadi kunci. Nasabah berhak mengetahui secara jelas: apa yang sebenarnya terjadi, sejauh mana progres perbaikan, dan kapan layanan benar-benar bisa kembali normal tanpa catatan.
Lebih dari itu, diperlukan langkah konkret yang terukur, bukan sekadar harapan. Jika kondisi ini terus berlarut, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap Bank 9 Jambi akan terkikis.
Bahkan, wacana pemindahan sistem pembayaran gaji ke bank lain yang mulai mencuat bisa menjadi sinyal serius yang tidak boleh diabaikan.
Bank daerah seharusnya menjadi tulang punggung pelayanan keuangan masyarakat, bukan justru menjadi sumber ketidakpastian.
Tiga bulan sudah cukup lama untuk sebuah “proses perbaikan”. Kini yang dibutuhkan bukan lagi penjelasan, melainkan hasil nyata.
Nasabah tidak meminta hal berlebihan. Mereka hanya ingin satu hal sederhana: akses terhadap uang mereka sendiri, tanpa harus antre, tanpa harus menunggu, dan tanpa harus terus bersabar tanpa batas.(J24-Redaksi)
.jpg)
.jpg)
0Komentar