Jambi, J24 - Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.613,5 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026 dinilai menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal global dan tantangan domestik sedang bertemu dalam satu momentum yang cukup berat bagi perekonomian nasional.

Namun demikian, ekonom Noviardi Ferzi menyampaikan menilai kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai krisis, melainkan fase tekanan siklikal yang masih memiliki ruang pengendalian apabila pemerintah dan otoritas moneter bergerak cepat serta terukur.

Menurut Noviardi, pelemahan rupiah saat ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang saling memperkuat. Dari sisi eksternal, menguatnya dolar AS akibat sikap hawkish The Fed membuat arus modal global kembali masuk ke aset berbasis dolar.

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga memperbesar sentimen safe haven sehingga investor global cenderung menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Pasar global sedang berada dalam fase risk off. Dalam kondisi seperti ini, mata uang emerging market pasti mengalami tekanan. Rupiah bukan satu-satunya yang melemah, namun karena Indonesia masih memiliki ketergantungan impor energi dan kebutuhan dolar yang tinggi, maka tekanan terhadap rupiah menjadi lebih terasa,” ujar Noviardi, Selasa, 19 Mei 2026.

Ia menjelaskan, kebutuhan impor BBM nasional yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari menyebabkan permintaan dolar meningkat signifikan ketika harga minyak dunia naik. Di saat bersamaan, periode pembagian dividen emiten besar turut meningkatkan aliran keluar devisa karena banyak perusahaan melakukan konversi rupiah ke dolar AS untuk pembayaran kepada investor asing.

Dari sisi domestik, Noviardi melihat pasar juga sedang menunggu sinyal kuat mengenai arah fiskal pemerintah. Ketidakpastian terkait pengelolaan anggaran, target penerimaan pajak, serta tingginya beban utang jatuh tempo menjadi faktor yang memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

“Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi. Ketika komunikasi fiskal kurang solid, investor akan mengambil posisi defensif. Karena itu pemerintah perlu memperkuat transparansi, memperjelas arah kebijakan, dan memastikan koordinasi fiskal-moneter berjalan konsisten,” katanya.

Meski demikian, Noviardi menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibanding sejumlah negara berkembang lain. Cadangan devisa dinilai masih memadai, inflasi masih terkendali, sektor ekspor komoditas tetap menopang devisa, dan pertumbuhan ekonomi domestik masih bergerak positif ditopang konsumsi masyarakat serta pembangunan infrastruktur.

Ia memproyeksikan tekanan rupiah berpotensi mulai mereda apabila Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas pasar valas, sementara pemerintah mampu memperbaiki kepercayaan investor melalui langkah fiskal yang lebih kredibel dan efisien. 

Menurutnya, level pelemahan saat ini justru dapat menjadi momentum pembenahan struktural agar ekonomi Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor energi dan aliran modal jangka pendek.

“Indonesia pernah menghadapi tekanan yang jauh lebih berat dan mampu bangkit. Kuncinya adalah menjaga kepercayaan pasar. Jika reformasi fiskal diperkuat, hilirisasi terus berjalan, serta investasi produktif dijaga, maka rupiah memiliki peluang kembali stabil secara bertahap pada semester kedua 2026,” tegasnya.

Noviardi juga menilai pelemahan rupiah tidak sepenuhnya berdampak negatif. Dalam jangka pendek, kondisi tersebut justru dapat meningkatkan daya saing ekspor nasional dan memperbesar peluang masuknya investasi pada sektor berbasis sumber daya alam, manufaktur, dan hilirisasi.

“Yang paling penting saat ini adalah menjaga stabilitas psikologis pasar. Pemerintah, Bank Indonesia, dan pelaku usaha harus menunjukkan optimisme yang rasional. Selama fundamental ekonomi dijaga dan konsumsi domestik tetap kuat, Indonesia masih memiliki kapasitas untuk melewati tekanan ini,” pungkasnya.(J24-Red/AsenkLee)