Diduga Keracunan MBG, Puluhan Siswa Dilarikan ke Rumah Sakit, Program Bergizi Jangan Berujung Petaka. (IST)

Muarojambi, J24 - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi harapan peningkatan gizi pelajar justru berubah menjadi kepanikan. Puluhan murid dari sejumlah sekolah di Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muarojambi, diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap makanan yang dibagikan di sekolah, Jumat (30/1/2026).

Sejak siang, RSUD Ahmad Ripin Sengeti dipadati pasien anak. Mereka datang silih berganti dengan kondisi memprihatinkan, muntah hebat, diare, tubuh lemas, hingga gemetar. Beberapa bahkan harus mendapatkan penanganan intensif karena kondisi yang terus melemah.

Tangis dan kecemasan orang tua memenuhi area rumah sakit. Fitriani, wali murid tingkat RA, menceritakan detik-detik anaknya mulai menunjukkan gejala.

“Sekitar jam sebelas masih normal. Setelah makan di sekolah dan sampai rumah, anak saya langsung muntah-muntah. Bibirnya sampai biru, badannya gemetaran,” ujarnya dengan nada panik.

Ia memastikan anaknya tidak mengonsumsi makanan lain selain yang diberikan di sekolah. “Hanya makan dari sekolah,” tegasnya.

Kejadian serupa dialami siswa SD Negeri 205 Kelurahan Sengeti. Ratih, salah satu orang tua murid, mengatakan anaknya awalnya tampak baik-baik saja, namun tak lama kemudian muntah dan mencret setelah menyantap menu soto dari program MBG.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius: sejauh mana standar keamanan makanan dalam program yang menyasar anak-anak tersebut?

Informasi yang dihimpun menyebutkan para siswa berasal dari sekolah penerima distribusi makanan SPPG wilayah Sengeti, penyedia menu MBG di daerah tersebut. Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak penyedia maupun instansi terkait mengenai penyebab pasti dugaan keracunan.

Ketiadaan penjelasan cepat hanya memperbesar kegelisahan publik. Program MBG pada dasarnya dirancang sebagai investasi masa depan, memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak. Namun tanpa pengawasan ketat, kualitas bahan pangan terjamin, serta proses distribusi yang higienis, program mulia ini justru berisiko menjadi ancaman.

Anak-anak bukan bahan percobaan. Setiap kelalaian dalam pengelolaan makanan sekolah bisa berujung fatal. Pemerintah daerah dan pihak terkait didesak segera melakukan investigasi menyeluruh, mengumumkan hasilnya secara transparan, serta mengevaluasi rantai penyediaan makanan, mulai dari dapur produksi hingga sampai ke tangan siswa.

MBG tidak boleh sekadar berjalan sebagai program seremonial. Keamanan harus menjadi prioritas utama, bukan pilihan.

Sebab ketika makanan gratis justru mengantar anak ke ruang perawatan, yang dipertaruhkan bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga keselamatan generasi masa depan.(J24-Red)