Antrian kendaraan di salah satu SPBU di Pangkalan Kerinci Riau, (7/7/2026) dari pukul 02.00 hingga pukul 06.08 WIB Bus Rombongan Kontingen Pesparawi SM GKPS Resort Jambi belum dapat giliran mengisi BBM.

Riau, J24- Pemandangan antrean kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, mulai dari Jambi, Riau hingga Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan. Truk angkutan barang, bus antarkota, mobil pribadi hingga sepeda motor rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

Fenomena ini bukan lagi sekadar persoalan antrean biasa. Dari hasil penelusuran Penulis dan berbagai informasi yang dihimpun, pada 1 Juli hingga 7 Juli 2026, terdapat sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab utama, mulai dari lonjakan konsumsi, perubahan pola penggunaan BBM, hingga dugaan lemahnya pengawasan distribusi di lapangan. 

Pertamina sebelumnya mengakui bahwa konsumsi BBM subsidi, khususnya Pertalite, mengalami peningkatan cukup signifikan. Salah satu penyebabnya adalah banyak pengguna Pertamax yang beralih ke Pertalite setelah adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi. Akibatnya, permintaan melonjak dalam waktu singkat dan stok di sejumlah SPBU lebih cepat habis dibanding hari-hari normal. 

Sebagai langkah antisipasi, Pertamina bahkan menambah penyaluran Pertalite dan Solar hingga sekitar 20 persen di sejumlah wilayah Sumatera Bagian Utara. Namun tambahan pasokan tersebut belum sepenuhnya mampu menghilangkan antrean panjang di berbagai titik. 

Jalur Logistik Sumatera Bergantung pada Solar

Jalan Lintas Sumatera merupakan urat nadi distribusi logistik Pulau Sumatera. Ribuan truk pengangkut hasil perkebunan, industri, hingga kebutuhan pokok melintas setiap hari.

Ketika pasokan Solar bersubsidi sedikit saja terganggu atau distribusinya terlambat, dampaknya langsung terasa. Sopir truk memilih mengantre di SPBU yang masih memiliki stok karena mereka tidak memiliki banyak pilihan selama perjalanan.

Akibatnya, antrean kendaraan berat memanjang hingga ke badan jalan dan memicu kemacetan. Seperti yang dialami Bus Rombongan Kontingen Pesparawi SM GKPS Resort Jambi, Selasa dini hari di Riau (7/7/2026). 

Dugaan Penyalahgunaan BBM Bersubsidi
Di lapangan, berbagai kalangan juga menyoroti dugaan masih adanya praktik penyalahgunaan BBM subsidi.

Modus yang sering disebut antara lain,pengisian berulang menggunakan kendaraan yang dimodifikasi.Penggunaan jeriken dalam jumlah besar.

Dugaan penjualan kembali BBM subsidi kepada industri atau pihak tertentu dengan harga lebih tinggi.

Jika praktik seperti ini benar terjadi, maka stok yang seharusnya dinikmati masyarakat umum menjadi berkurang jauh lebih cepat.

Meski demikian, dugaan tersebut memerlukan pembuktian melalui pengawasan aparat penegak hukum dan instansi terkait.

Distribusi Belum Sepenuhnya Merata

Selain meningkatnya konsumsi, distribusi BBM ke setiap SPBU juga menghadapi tantangan tersendiri.

Faktor seperti:jarak Terminal BBM menuju SPBU, kepadatan lalu lintas, kondisi jalan, hingga cuaca, dapat memengaruhi kecepatan pengiriman BBM.

Ketika satu SPBU kehabisan stok lebih dahulu, masyarakat otomatis berpindah ke SPBU lain. Efek domino inilah yang menyebabkan antrean semakin panjang.

Bagi pengemudi angkutan barang, waktu berjam-jam yang terbuang di SPBU berarti biaya operasional semakin besar. Juga sangat meresahkan bus penumpang. 

Distribusi barang menjadi terlambat, jadwal pengiriman terganggu, dan biaya logistik berpotensi meningkat. Selain itu penumpang bus juga mengalami keterlambatan tiba di tempat tujuan. 

Apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, bukan tidak mungkin harga kebutuhan pokok ikut terdampak karena biaya transportasi yang semakin tinggi.

Perlu Evaluasi Menyeluruh

Pengamat energi menilai penyelesaian persoalan ini tidak cukup hanya dengan menambah pasokan BBM.

Pemerintah bersama Pertamina perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap ketepatan kuota BBM subsidi, efektivitas sistem distribusi, pengawasan terhadap dugaan penyalahgunaan, serta pemanfaatan sistem digital agar penyaluran BBM benar-benar tepat sasaran.

Tanpa pembenahan di sisi distribusi dan pengawasan, penambahan pasokan berisiko hanya menjadi solusi sementara.

Masyarakat berharap antrean panjang di SPBU yang kini terjadi di berbagai ruas Jalan Lintas Sumatera tidak terus berulang. Jalan nasional tersebut merupakan jalur vital penggerak ekonomi Sumatera.

Selama penyebab mendasar belum dituntaskan, antrean panjang berpotensi menjadi pemandangan rutin yang tidak hanya merugikan pengendara, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi di kawasan Sumatera. (J24-AsenkLeeSaragih)