Jambi, J24 - Enam puluh sembilan tahun perjalanan Provinsi Jambi bukan sekadar hitungan usia administratif, melainkan refleksi panjang tentang daya tahan dan kemampuan beradaptasi sebuah daerah. Sejak berdiri pada 1957 setelah melepaskan diri dari Karesidenan Sumatera Tengah, Jambi tumbuh dari wilayah dengan keterbatasan infrastruktur menjadi provinsi yang kini bersiap mengambil peran strategis di pesisir timur Sumatera.
Pada masa awal pembentukan, Sungai Batanghari menjadi urat nadi kehidupan. Akses darat yang minim membuat mobilitas dan distribusi logistik sangat bergantung pada jalur air. Dalam keterbatasan tersebut, identitas Melayu Jambi berperan penting sebagai perekat sosial, menjaga kohesi masyarakat di tengah tantangan geografis yang berat.
Memasuki fase pembangunan berikutnya, Jambi mengalami pertumbuhan ekonomi signifikan melalui sektor agraria. Perkebunan karet dan kelapa sawit berkembang pesat dan menempatkan Jambi sebagai salah satu daerah penghasil komoditas unggulan nasional.
Namun, ketergantungan pada sektor berbasis sumber daya alam mentah membawa risiko jangka panjang. Fluktuasi harga global dan minimnya nilai tambah membuat struktur ekonomi daerah rentan, sementara kebutuhan infrastruktur darat semakin mendesak seiring pertumbuhan penduduk.
Reformasi Pembangunan di Era Al Haris–Abdullah Sani
Babak pembaruan yang lebih progresif dimulai sejak kepemimpinan Dr. H. Al Haris, S.Sos., MH dan Drs. H. Abdullah Sani, M.Pd.I, yang dilantik pada Juli 2021 di tengah pandemi COVID-19. Mengusung visi Jambi MANTAP (Maju, Aman, Nyaman, Tertib, Amanah, dan Profesional), pemerintahan ini menekankan reformasi pelayanan publik dan pemerataan hasil pembangunan.
Salah satu program unggulan adalah Dua Miliar Satu Kecamatan (Dumisake). Program ini dirancang untuk mendesentralisasikan anggaran pembangunan agar manfaat ekonomi tidak hanya terpusat di perkotaan.
Melalui Dumisake, pemerintah provinsi menyalurkan bantuan modal usaha kecil, beasiswa pendidikan, serta perbaikan rumah tidak layak huni bagi masyarakat prasejahtera. Program tersebut menjadi respons atas tuntutan publik akan keadilan sosial dan pemerataan pembangunan.
Di sisi lain, tantangan besar masih membayangi, terutama pada sektor infrastruktur. Aktivitas angkutan batubara menjadi sorotan utama akibat dampaknya terhadap jalan umum, kemacetan, kerusakan infrastruktur, hingga meningkatnya risiko kecelakaan lalu lintas.
Merespons tekanan publik, Pemerintah Provinsi Jambi mendorong percepatan pembangunan jalan khusus batubara dengan melibatkan pihak swasta, serta mengoptimalkan kembali jalur sungai sebagai alternatif transportasi. Kebijakan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk menyeimbangkan kepentingan investasi dengan keselamatan dan kenyamanan masyarakat.
Selain itu, pembangunan dan perbaikan jalan serta jembatan penghubung antarwilayah terus dipacu, khususnya di daerah perbatasan kabupaten. Upaya ini bertujuan menekan biaya logistik dan mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi.
Lingkungan, Hilirisasi, dan Budaya
Pada aspek lingkungan, Jambi mulai menunjukkan kemajuan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan melalui penguatan koordinasi lintas sektor dan pelibatan masyarakat. Sementara di sektor ekonomi, kebijakan hilirisasi komoditas didorong agar nilai tambah karet dan kelapa sawit dapat dinikmati di dalam daerah sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Pelestarian budaya juga menjadi bagian dari agenda pembangunan. Revitalisasi Candi Muaro Jambi diposisikan bukan hanya sebagai proyek pelestarian sejarah, tetapi juga sebagai upaya membangun citra Jambi sebagai pusat wisata religi dan kebudayaan bertaraf nasional hingga internasional.
Memasuki era digital, transformasi birokrasi berbasis teknologi terus dilakukan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintahan. Sistem pelayanan publik dan perizinan satu pintu diperkuat guna menciptakan iklim investasi yang sehat dan bersih.
Di usia ke-69, Provinsi Jambi masih menghadapi berbagai pekerjaan rumah. Namun, fondasi pembangunan yang terus diperbaiki menunjukkan arah yang jelas: pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga keadilan dan keberlanjutan.
Dari wilayah yang dahulu bergantung pada aliran Sungai Batanghari, Jambi kini melangkah menuju masa depan dengan harapan menjadi daerah yang maju, terkoneksi, dan berdaya saing. Perjalanan ini masih panjang, tetapi komitmen untuk terus berbenah menjadi modal utama menuju kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. (J24-ADV Berbagaisumber/AsenkLeeSaragih)
.jpeg)
.jpeg)

0Komentar